Selamat ulang tahun pada tahun ini!

Gw lupa apakah gw pernah menuliskan kalimat ini sebelumnya: waktu masih kecil, gw pikir umur manusia terhenti pada usia 25 tahun, dan manusia tidak akan beranjak tua. Namun pemikiran ini tentu salah sama sekali. Usia 25 tahun sudah gw lalui beberapa tahun yang lalu dan usia sekarang adalah usia yang sama sekali jauh dari bayang-bayang.

Tahun ini dilalui dengan banyak hal yang patut disyukuri mulai dari pengalaman penjelajahan berbagai hal dan tempat hingga perkenalan dengan super banyak orang-orang baru maupun orang lama yang kemudian baru kenal dekat. Relasi antarmanusia mungkin jadi misteri yanng paling misteri dalam hidup sehari-hari, dinamikanya tidak bisa ketebak, and sometimes it’s sucks.

Persoalannya adalah gw adalah salah satu orang yang tipe “pengontrol” atau “perencana”, bakal gusar luar biasa saat rencana awal berantakan. Sayangnya gw selalu lupa ini: I never can control my own life since there are so much magnificent thing I can not control at all. Padahal Tuhan sudah kasih peringatan pada 2013 lalu untuk mengosongkan isi perahu agar gw hanya bergantung kepada Dia, tapi seiring berjalannya waktu, gw malah mengisi perahu gw dengan hal-hal “baik” menurut gw sampe-sampe perahu itu menuju tenggelam karena kelebihan muatan. Jadi sekali lagi gw harus mengosongkan perahu gw untuk memberikan ruang bagi Tuhan memimpin, bahkan untuk hal-hal yang gw rasa “super sangat baik”.

Pengalaman usia super di perbatasan yang gampang galaw membuat pun mengambil sejumlah kesimpulan:
1. Life by grace day by day, because you have no control to your own life, even in this very short life. Grace also means on God and persistence in prayer.
2. Life truthfully. Truth hurts. It bruises our ego, make us uncomfortable and calls for change, but it’s the only way to be found faithful.
3. Manage your promise, you don’t know how high expectation from other people when get your words, so do not make any fake expectation. You don’t know how much you or other people have to sacrifice to fulfill that expectation.

Jadi selamat bertambah dewasa pada usia yang baru Desca Lidya Natalia Situmorang.

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir (Pkbh 3:11).

ayam gulai setengah ekor, dimakan jam setengah enam pagi
ayam gulai setengah ekor, dimakan jam setengah enam pagi
ternyata birthday cake sushi-tei kecillll
ternyata birthday cake sushi-tei kecillll
unntuk pertama kalinya bawa orang rumah ke Sushi-Tei
unntuk pertama kalinya bawa orang rumah ke Sushi-Tei
Advertisements

Tentang Bersyukur

Secara jujur, gw termasuk orang yang sulit bersyukur. Penyebabnya bisa macam-macam. Bisa karena gw merasa punya kapasitas untuk mengerjakan tugas tertentu sampai selesai, karena tugas yang terselesaikan itu selanjutnya berganti dengan tugas yang lain, karena gw tidak fokus kepada hal detail, karena gw suka membandingkan pencapaian dengan orang lain, karena gw tidak menyisihkan waktu untuk bersyukur, karena gw membuat banyak target dan berbagai hal lainnya.

Dampak dari kurang bersyukur itu sesungguhnya bahaya karena lo jadi merasa diri lo doang yang punya dunia ini dan gak menyisihkan nafas sebagai jeda dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain. Lo juga jadi gak merasa bahagia dengan apa yang lo dapet karena merasa bahwa hasil tersebut memang sudah sepantasnya (meski bahagia juga bukan jadi tujuan utama manusia). Tapi seharusnya bersyukur bisa jadi secercah cahaya yang dengan perlahan dihirup dan dihembuskan sehingga menghasilkan senyum tulus, terlepas dari hasil pekerjaan itu.

Tipisnya rasa bersyukur itu juga terjadi saat gw ulang tahun 11 Desember 2015 ini. Pada usia udah tingkat kritis (hahaha) Tuhan membawa gw ke Busan, melalui Narita, dalam perjalanan di pesawat yang lama tapi acara yang super singkat untuk merasakan hawa dingin 4 derajat Celcius. Kalau dipikir-pikir, harusnya gw bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan menjawab doa yaitu “Petualangan tanpa batas dalam karunia-Nya”. Tapi entah kenapa gw kurang atau bisa dibilang tidak bersyukur.

Pelajaran apa yang gw dapat sepanjang di Korea dan Jepang (meski di bandaranya doang)? Ada banyak hal yang gw gak tau dan harus dipelajari, dan hal itu membuat gw rendah hati. Ada banyak juga keterbatasan dan kecerobohan gw sehingga harusnya gw lebih mengandalkan Tuhan yang Maha Kuasa. Dan sekali lagi, uang bukan jawaban dari semuanya.

Ulang tahun kali ini dalam kondisi jauh dari orang-orang terdekat dan hanya dijabat tangan oleh mama, papa dan ivan membuat gw berpikir bahwa sekali lagi keluarga adalah satu-satunya tempat di dunia ini that I can lean on, of course God Almighty is above anything else. Bila Tuhan berkenan gw pun bisa punya keluarga seperti itu juga di tahun selanjutnya.

Ulang tahun kali ini juga mengajarkan mengenai pentingnya pembaharuan akal budi karena itulah yang akhirnya menentukan langkah hidup. Pendidikan menjadi kunci penting, baik pendidikan formal, informal maupun pendidikan dari pengalaman hidup. Dengan akal budi yang sudah diperbaharui dalam Tuhan, manusia dapat membedakan mana kehendak Allah, mana yang baik yang berkenan kepada Allah, yang sempurna sehingga dapat mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, yang berkenan kepada Allah (Roma 12:1-2). Ayat klasik tapi penerapannya selalu dibutuhkan.

Ulang tahun kali ini memperlihatkan berkat kasih Allah baik dalam keadaan susah maupun senang dan banyak hal di sekeliling kita pun bukan hasil jerih payah manusia tapi semata-mata penyediaan Allah. Karena Allah bahkan bisa menjadikan orang-orang yang tampak dibuang sebagai pelayan-pelayanNya. Hormat dan Kemuliaan hanya bagi Allah!

Yang jelas ulang tahun kali ini memperlihatkan kepada gw untuk terus-terusan sadar diri agar bisa terus bersyukur dan percaya kepada Tuhan Empunya langit dan bumi, apalagi yang diperlukan di dunia ini selain menjadi orang yang berkenan kepadaNya?

Di depan keramaian Busan
Di depan keramaian Busan
Lope di depan Busan-Indonesia Center
Lope di depan Busan-Indonesia Center
Bersama ibu-ibu PKK penari korea
Bersama ibu-ibu PKK penari korea
Malam-malam di pantai 4 derajat celcius
Malam-malam di pantai 4 derajat celcius

Ulang tahun: untuk Membangunkan Manusia

11/12/2014

Jadi hari ini adalah hari yang diantisipasi sekaligus dinanti. Penyebabnya hari ini menjadi titik untuk memanjatkan rasa syukur karena berkat yang melimpah selama satu tahun namun juga antisipasi karena banyak tenggat waktu yang menunggu.

Namun Puji Tuhan rasa syukur mengalahkan kebingungan dan ketidaktahuan. Meski manusia tidak tahu kecepatan rotasi bumi di porosnya, toh manusia tetap tersenyum saat menikmati cahaya matahari dan hembusan angin yang muncul karena rotasi itu. Kira-kira demikian saya mencermati kondisi saat ini.

Sejumlah perubahan jelas harus dilakukan, karena kembali lagi mengambil contoh rotasi bumi, bumi saja bergerak, masak manusia yang berkuasa atasnya hanya jalan di tempat? Namun perubahan apa saja yang harus dilakukan?

Perubahan tentu dimulai dari tujuan, bila tahu ke mana akan mengarah kemudian paham posisi saat ini maka manusia dapat mengambil sudut pandang untuk mencari jalan paling pas menuju tujuan tersebut.

Tujuan, tujuan, tujuan

Tujuan kali ini adalah tidak menyimpang dari kebenaran dan kesetiaan (Yes 11:5). Jenis apa kebenaran dan kesetiaan itu? Jenis kata sifat. Dapat dari mana kedua kata sifat itu? Dari kebiasaan-kebiasaan yang baik. Siapa yang dibangun kebiasaannya? Manusia.

Beberapa hari terakhir memang diingatkan mengenai pembangunan sumber daya manusia. Unsur utama yang hadir dalam setiap kondisi setelah Tuhan. Bahkan Tuhan menciptakan manusia sebagai ciptaan terakhir, yang paling sempurna. Dalam proses produksi, manusia pun menjadi unsur pengendali sumber daya alam dan modal. Sebaliknya penyumbang kehancuran apa yang disebut baik oleh Tuhan juga adalah sang manusia pemilik akal. Akhirnya pembangunan sumber daya manusia yang takut akan Tuhan sehingga dapat tidak menyimpang dan kebenaran dan kesetiaan menjadi penting.

Masalahnya, saat ini pembangunan sumber daya manusia cenderung instan, mengeneralisasi, tidak menautkan satu manusia dengan manusia lain, apalagi menghubungkan manusia dengan Tuhan yang sesungguhnya. Manusia menjadi mengikuti apa yang dilakukan dunia hasil instan yang terjadi dari manusia itu sendiri. Tidak siap dengan kesulitan sehingga mudah mengeluh. Tidak fokus melakukan sesuatu karena bertindak dengna tujuan jangka sangat pendek dan dasar yang lemah. Lemah terhadap komitmen jangka panjang, hingga berharap hasil yang cepat dan mudah. Saya juga masuk ke dalam kategori manusia tersebut: manusia yang membuang-buang waktu dan kesempatan tanpa tahu sudah melewatkan hal berharga.

Karena itu saat ini saya harus fokus pada pembangunan sumber daya manusia, baik diri sendiri maupun orang lain:
to develop human resources
to build the reasoning habit
to criticize yet grateful for anything
to prepare for everything
to commit for what you said
and never lose your faith, hope and love

Syukurlah untuk mengerjakan itu saya tidak sendirian.
Tuhan bersama saya
Ditambah keluarga dan teman-teman, dan semoga selanjutnya pasangan hidup saya. Demi kemuliaan Tuhan dari kekekalan hingga kekekalan. Amin.

editan Ambar dan Dinda
editan Ambar dan Dinda
Foto bersama warga C1 yang semakin sedikit
Foto bersama warga C1 yang semakin sedikit
kompilasi foto di medsos
kompilasi foto di medsos
foto kelas bersama bu Nana
foto kelas bersama bu Nana
foto dari tetangga tersayang
foto dari tetangga tersayang
foto dari Bonat
foto dari Bonat
foto dari Gaga
foto dari Gaga
foto dari Sinta
foto dari Sinta
foto dari Dea
foto dari Dea
ucapan dari bang Johan
ucapan dari bang Johan

Feel blessed

Gw pikir umur seseorang akan berhenti pada usia 25 tahun, dan setelah itu usianya tidak akan bertambah.

Namun gw salah, karena Tuhan mengaruniakan waktu dan kesempatan yang lebih berlimpah kepada manusia, dibanding hanya 25 tahun.

Untuk hal ini gw bersyukur.

Karena tentu setelah diberi lebih dari usia 25 tahun pada tahun ini, juga diberikan hal-hal yang melebihi perkiraan gw.

Gw menamakan tahun ini sebagai tahun IMAN alias FAITH.

Saat-saat di mana iman gw diuji sungguh-sungguh apakah benar-benar bergantung kepada Sang Khalik atau memang hanya menaruh label iman di KTP. Saat dimana selama hampir sebulan merasakan hidup di rumah sakit dan melihat orang yang dikasih memperjuangkan hidup, saat tidak ada rencana sama sekali untuk hari esok, karena hari esok punya kesusahan (dan kesenangannya tersendiri). Saat dimImageana masih diberikan Tuhan kesempatan untuk menjadi pelayan dalam satu kamp besar dalam perjalanan mewujudkan mimpi besar: manusia Indonesia yang tidak perlu bingung memikirkan kebutuhan dasarnya, saat dimana Tuhan memberikan teman-teman persekutuan baru dan mempelajari nilai hidup yang luar biasa. Saat dimana Tuhan menganugerahkan kesempatan kembali bersekolah, menambah keterampilan, mengasah penalaran agar tetap kritis dan bertanggung jawab saat menikmati waktu Tuhan. Saat dimana mendapat pengalaman berpetualang ke tempat yang belum pernah disinggahi untuk merasakan bahwa sekali lagi, berkat Tuhan melintas dimensi ruang dan waktu. Saat dimana dihajar dan diajar bahwa tidak ada keberhasilan yang datang dengan sendirinya, tapi harus dimulai dengan langkah kecil dan diikuti dengan ketekunan menjejakkan jejak-jejak selanjutnya. Saat dimana merasakan limpahan kasih dari orang-orang sekitar sekaligus apresiasi atas pekerjaan yang gw lakukan. Saat dimana “yes this is the feeling, but should I go through it?” sehingga memberikan pelajaran bahwa setiap rasa pun punya asa untuk bisa diwujudkan tapi toh hidup masih punya rasa yang lain kan?

Akhirnya, tahun ini adalah tahun IMAN (FAITH), tahun depan bisa jadi tahun KESETIAAN alias FAITHFUL.

Mari menantikan perayaan kedatangan Tuhan ke dunia saat Natal sekaligus pengharapan kedatangan-Nya yang kedua kali.

Selamat ulang tahun untuk diri gw!

PS: tulisan ini seharusnya dibuat 3 hari yang lalu! Dasar pemalas!