Life has its own attraction and also repulsion

Life has its own attraction and also repulsion. You may facing ups and down, back and forth, swearing and swearing more. You think you can trust one person and lean on her/him but suddenly you have to face the other side of truth. You think that you have chose the best way to encourage yourself and others so that everybody will get equal opportunity but actually you just self-sacrifice and others abruptly feel discourage due to your action. You can not mitigate the bad fortune as well as you can resist a new path coming. When you think that there’s no point to make a plan because you have no power to control your plan, your heart betrayed your mind and  hope that your dream comes true, but when it doesn’t, your become so much upset.

Well, human being is so much has twisted personalities and you will not believe how the twisted logic and heart capture the human consciousness and turn you as “galau” person. I feel bad for that, and for my self when it occur to me, but what else I can say (and do)?

Usually I just take a deep breath and recounting my bless and my purpose here in this uneasy world. I do really really barely crying (well I do not know why even I know something is worth it to be cried on), but when the ideal jobs, hope of spouse, reasoning modalities, experience background facing to the fact right in front of your eyes that different at all with your first hypothesis , you suddenly lose your grab and have no idea where to put your step.

But that’s why it’s called life. It’s too late to change your mind, it’s too tired to swear all the way, it’s too unworthy to be grumpy. The best will come and the worst even hasn’t grip you yet. So be prepare and ready for the next challenge!

Tentang Bulan Juni dan (sedikit) mengenai Bahagia

Ada banyak hal yang menyenangkan sepanjang Juni 2016. Banyak bertemu dengan orang baru, proyekan baru (proyekan lama yang semakin jelas arahnya sih), perjalanan baru, tantangan baru.

Salah satu hal menyenangkan adalah perjalanan ke Sydney dan Canberra, Australia pada 7-11 Juni 2016. Gw ngikut Menkopolhukam dan rombongan (termasuk Kapolri saat itu Jenderal Pol Badrodin Haiti dan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme sekaligus calon Kapolri ketika itu Kombes Pol Tito Karnavian). Meskipun akhirnya gw merasa dibodohi karena selang dua hari ternyata presiden mengajukan nama Tito sebagai calon tunggal Kapolri dan gw gak tau apa-apan tentang itu. Perjalanan ke benua yang secara hukum adalah bagian dari Persemakmuran Inggris itu super duper seru.

I had a lot of fun strolling around Sydnew with my pal kaka Dewi and grabbed a lil time to chit chat with the one and only Frisca Tobing at Australia National University! Sekali lagi perjalanan itu menyenangkan bukan karena tempat tujuan yang super duper mencengangkan, tapi karena bersama dengan orang-orang yang menyukakan hati. Karena gw juga berkenalan dengan orang-orang baru baik dari Menkopolhukam maupun atase dan bahkan kawan-kawan dari Papua yang friendly. Plus ketemu si Mas Andy Widjojanto yang ternyata goa-nya ada di Menkopolhukam! Bonus nyobain makanan di dua fancy restoran di Sydney! What an unexpected experience.

Dan sesungguhnya pada Juni gw juga diberikan kesempatan untuk lebih serius pelayanan baik di RPA, RPPJ maupun Lausanne. Tiga pelayanan yang berjalan bersamaan dan kebanyakan mengurus hal teknis tapi bagaimana dari urusan teknis itu membuat diri kita bergantung kepada Sang Kuasa. Kekontrasan dalam dunia yang penuh dengan dualisme ini (i.e pria-wanita, siang-malam, baik-buruk, yin-yang, benar-salah), suatu urusan teknis kerap berkorelasi dengan kemampuan manusia dan bukan keberadaan Sang Pencipta. Tapi di situlah gw belajar banyak bahwa dualisme dunia tidak bisa dan tidak boleh dibawa dalam pelayanan yang seharusnya holistik karena Tuhannya satu yang mengurusi semuanya tanpa terbagi-bagi.

Bulan Juni ini gw juga belajar berelasi dengan manusia lain, baik orang yang sudah lama dikenal tapi baru kenal banget sekarang maupun orang yang benar-benar baru dikenal dan bisa jadi pada masa yang akan datang bisa lebih dikenal. Persoalannya dalam perjalanan mengenal orang itu ada ekspektasi-ekspektasi yang kadang melampaui akal sehat sehingga saat ekspektasi itu tidak terpenuhi maka momen yang seharusnya jadi bahagia berubah ke arah sebaliknya. The problem is, even though I’ve trained my self to control what I feel and think so many years, I barely control it 100 percent, for sure because I don’t belong myself and belong to Him, that’s why self resignation is a must even feel so hard. Well, but it’s quite defastating to find your expectation flew away in front of your eyes.

Pada bulan Juni (dan pertengahan Juli) ini pun gw makin mempelajari mengenai artinya bergerak dan berserah. Sebenarnya bukan dari pengalaman gw sih, tapi lebih dari pengalaman orang yang gw bahkan belum pernah temui dan kenal sebelumnya, hanya Tuhan menempatkan gw di posisi menjelang akhir hidup orang dekat kenalan baru gw itu. Well, berikut maksud bergerak dan berserah itu seperti yang disampaikan di ODB.

After the Israelities left Egypt, God led them “around by the desert road toawrd the Red Sea” (Ex 13: 17-18). Though there were shorter routes, God led them a longer way around the desert and demonstrated His faithfulness and power. His faithful presence was with them in pillars on fire and cloud (vv 21-22), and He demonstrated His power by His miraculous deliverance of the Israelities from the pursuing Egyptians (ex.14).

God used that time in the desert to instruct and mature the people He had called to follow Him. The easy road would have led them to disaster. The long road prepared the nation of Israel for their successful entry into the Promised Land.

Our God is faithful, and we can trust Him to lead us and care for us no matter what we face. We may not understand the reason for the path we are on, but we can trust Him to help us grow in faith and maturity along the way (ODB). And I will add: do not lose heart for everything is in His hands.

Jadi dari pengalaman dengan teman yang punya masalah dan entah bagaimana Tuhan menghubungkan gw dengan mereka (dan juga salah satu pejabat di Ditjen PAS) hingga akhirnya keluarganya merasa sangat terberkati, bagaimana mungkin gw gak bisa menjadi berkat untuk orang-orang di sekitar gw? Life is too short to be tamed in one place kata orang yang suka traveling, tapi kalo kata gw yang biasa-biasa dan gampang terobang-ambing ini, Life is too short to be locked to delight yourself.

Well, dalam segala keterbatasan dan kelinglungan gw dalam berpikir, berkata-kata dan bertindak setidaknya gw punya satu tujuan yang lumayan agak jelas: Ikut ambil bagian dalam mewujudkan kebahagian orang lain. Ada beberapa hal yang menurut gw, gw sedang dalam upaya menuju tujuan tersebut (semoga gw gak ke-ge-er-an) dan sewajarkan gw tidak bisa (dan tidak perlu) memaksakan diri untuk masuk ke hidup orang lain bila akhirnya gw malah gak bikin orang itu hidup tenang dan bahagia.

Dan ini link berita gw:

http://www.antaranews.com/berita/566067/indonesia-australia-pererat-kerja-sama-atasi-terorisme

http://www.antaranews.com/berita/567043/membedah-penanggulangan-terorisme-ala-ekonomi-menkopolhukam

http://www.antaranews.com/berita/568532/tito-karnavian-dan-strategi-berlapis-berantas-teroris

http://www.antaranews.com/berita/568527/badan-cyber-nasional-demi-indonesia-digital

http://www.antaranews.com/berita/567288/menikmati-sydney-dalam-balutan-cahaya-vivid

Tapi postingan ini dipublikasikan pada pertengahan September, huft!

dscf5850
Menwa, mas Andi, Frisca, gw (ki-ka)
dscf5860
makanan mahal di resto Italia
dscf5951
bersama kaka Dew di…hmmm di suatu sudut Sydney lah
dscf6020
di depan Sydney bridge!
dscf6064
ngebir di bawah Sydney Opera House, lucuk deh bir2 lokalnya
dscf5736
foto orang-orang penting, agak silau ternyata

Suatu Cerita tentang Pernikahan

Sahabat saya, Dorothy Marunduri menikah dengan teman saya Febriant Abby Marcel pada Sabtu, 10 Oktober 2015. Menjelang hari H, entah mengapa saya tidak berpikir untuk melakukan” bride shower” seperti yang biasa dilakukan orang-orang di kota metropolitan menjelang sahabatnya menikah. Saya justru sibuk dengan kesibukan saya sendiri yang sebenarnya tidak sibuk-sibuk amat. Sungguh benar-benar tidak teringat. Saya mohon maaf.

Saya pertama tahu Dorothy Marunduri alias Oci saat ikut les intensif di BTA SMA 8, karena ada satu pengajar geografi yang dengan teratur mempromosikan ada seorang anak IPS yang pengen banget masuk jurusan Matematika sehingga ambil intensif IPC bernama Dorothy. Tampaknya si Dorothy ini patut amat diteladani, padahal dalam hati saya, biasa ajah keles, gak ada hebat-hebatnya juga (saya memang dari kecil anaknya minim apresiasi kepada orang lain, hahaha).

Ternyata Dorothy yang masyur di BTA 8 itu malah masuk FISIP UI jurusan Fiskal –yang notabenenya adalah jurusan IPS. Dan saya yang adalah anak IPA juga ternyata masuk FISIP UI jurusan HI yang artinya menyebrang dari anak IPA jadi IPS. Tahun pertama kuliah, saya hanya tahu saja si Dorothy ini dipanggil Oci, suka basket, tampang lumayan kece, suka ikut Persekutuan Jumat, ya begitu ajah.

Tahun kedua, saya melayani di PO FISIP UI sebagai sie buletin dan literatur, si Oci masih jadi rakyat FISIP yang rajin PJ dan doa siang, anak baik-baik lah, udah tau gitu ajah. Tahun ketiga, saya jadi sie Kelompok Kecil dan Oci jadi sie PJ bersama dengan Diamanty Meiliana alias Dea. Saya sih menikmati pelayanan Oci yang karena sepertinya punya banyak kapasitas karena mendapat anugerah banyak Anak Kelompok Kecil yaitu 3 orang anak Fiskal 2007, 4 orang anak Humas 2007 dan pada tahun keempat bahkan bertambah dengan 5 atau 6 anak Pajak 2008 dan beberapa orang anak Unindra. She is very good in maintaining relations with her friends and acquaintances.

Pada tahun keempat lah saya menjadi sangat dekat dengan Oci, dan juga Dea. Menjadi Tim Inti PO FISIP UI dan menyatakan diri sebagai 3D (Dea, Desca, Dorothy) membuat kami tampak sepaket, kemana-mana bertiga. Banyak waktu yang kami habiskan bersama, mulai dari rapat, pembinaan, ketemu orang, main sepeda keliling UI dimana Oci selalu menjadi yang terdepan, rapat lagi dan lain-lain. Berbagi hidup, berbagi cita-cita, berbagi cerita juga termasuk urusan cintah. Dea yang selalu penasaran mengenai hubungan Oci dan Abby tidak pernah lupa bertanya mengenai kelanjutan hubungan mereka setelah selesai rapat. Kalau saya sih seneng-seneng aja mendengarnya, karena tidak terlalu dikejar rasa ingin tahu mengenai hubungan pribadi orang (sampai sekarang juga begitu sih, huhuh).

Dalam rapat Oci sebenarnya menjadi orang yang paling penting kalau saya dan Dea berbeda pendapat karena pendapat Ocilah –yang saat itu banyak menjadi pendengar yang akhirnya menentukan keputusan. We are so lucky to have her in our team as the catalisator.

Tapi sejauh yang saya tahu baik Oci maupun Abby sama-sama “committed” terhadap apa yang mereka sebut sebagai hubungan. Meski si Oci super plegma dan punya banyak fans, si Abby dengan penuh kesabaran menjalin relasi dengan si Oci, kayaknya gak ada putus-nyambung meski mereka sempat berjauhan karena Abby menjalani tugas di Kalimantan sebagai pekerja di Wahana Visi Indonesia maupun setelah keluar dari WVI juga menjalankan tugas “corporate social responsibilities” di Luwuk di suatu perusahaan pertambangan. Oci tetap setia di Jakarta tercintah.

Hingga setelah menjadi alumni selama 5 tahun saya bersyukur persahabatan saya-Dea-Oci tetap dijaga Tuhan karena meski intensitas pertemuan berkurang tapi kualitas hubungan yang mendewasakan tetap terpelihara. Saya dan Dea memang tidak masuk menjadi panitia pernikahan Oci dan Abby, apalagi jadi “bridesmaid” yang secara terhormat didapatkan sahabatnya oci sejak es-em-pe, Monita Idol. Tapi doa dan dukungan saya yang baru mengenal Oci selama lebih kurang 10 tahun selalu teriring. Keteladanannya untuk setia dalam pelayanan di gereja, pemuridan di kampus, berelasi dengan satu orang yang teruji bahkan melangkah ke tahap baru adalah sebagian kecil dari cerita nyata yang sangat pantas untuk diingat dan dilanjutkan.

Akhirnya, selamat menempuh hidup baru Oci dan Abby.
The wedding is absolutely well wrapped yet wee tears fall because of unconfined happiness and gratefulness. The new life is peeking behind the door. Even your journey is upside-down, but what is an adventure without briers and thorns? Like Cinderella’s mom said: have courage and be kind, and I would add one more: love each other because love covers over a multitude of sins.

XOXO

Oci dan Abby, yang berbahagia, diapit saya dan Dea yang juga bahagia
Oci dan Abby, yang berbahagia, diapit saya dan Dea yang juga bahagia

Selamat datang kesadaran

H+13 Dini Hari

So here am I, act as a blank species with no personal confidence to defense my self in this huge yet chaotic and unpredictable world.

Ada hal-hal yang tidak bisa lo tebak sebelumnya semacam bertemu dengan orang tertentu di tempat tertentu dan peristiwa lanjutan dari pertemuan itu.

Ada hal-hal yang berlanjut dan ada hal-hal yang dicukupkan sampai demikian.
Ada hal-hal yang perlu dibahas dan ada juga yang harus segera diselesaikan.
Semuanya tidak terlepas dari konteks saat itu. Sehingga kadang saat konteks berubah maka hal-hal yang dulunya dianggap pantas untuk dilanjutkan berganti menjadi hal-hal yang sebaiknya dihentikan. Hal-hal yang mesti diselesaikan sebaliknya menjadi sesuatu yang diperjuangkan.

Perubahan menjadi kata kunci, dan kemampuan beradaptasi mengikuti. Namun dalam prosesnya butuh kejujuran untuk menyadari. Sekali lagi kata sadar muncul. Kesadaran bahwa saya sebagai manusia bukanlah entitas yang gagah berani bertatapan muka dengan segala perubahan tapi hanyalah sesosok kecil ciptaan yang gampang gusar dengan sedikit geseran.

Sayangnya perubahan itu tidak bisa dihindarkan karena manusia sejatinya memang makhluk dinamis yang mendambakan gelombang untuk menyadari adanya pergulatan menuju puncak kehidupan. Nilai manusia bertambah saat berani melintasi perubahan dengan kepala tegak dan meski terjatuh kembali bangun dan berdiri untuk melangkah menuju titik tujuan. Tapi jangan lupa berlutut lebih dulu memohon ampun atas kekhilafan sekaligus meminta penguatan.

Selamat datang kesukaan baru,

selamat tinggal pemikiran lama. Salam tanpa rindu.

*setelah ngopi-ngopi dengan lingkaran yang lebih besar dengan pembicaran yang di luar perkiraan