Tentang Kebenaran

Ada banyak banget peristiwa udah berlalu dan ada banyak draf tulisan yang cuman disimpan di laptop, gak jadi-jadi ditaro di blog lebih karena males sih. Sebelum Lebaran udah males-malesan, setelah lebaran dan dapat libur lama (5 hari kehitung lama sih buat gw) tambah males. Bahkan males untuk berpikir dan bergerak padahal cita-citanya udah terserak. Jadi sebelum tambah kumat, terjadilah tulisan ini yang akhirnya mengambil judul soal “Kebenaran”. Topik yang sulit sih menurut gw dan belakangan sering diserahkan kepada masing-masing pribadi. Bayangin kalo ada 6 miliar orang di bumi ini dan masing-masing punya kebenaran pribadi, jadi ada 6 miliar kebenaran. Well gak heran sih soalnya kebenaran dalam bahasa Inggrisnya itu truth yang asal katanya dari: Middle English trewthe, dari Old English trēowth fidelity; mirip dengan kata Old English trēowe faithful. jadi kebenaran timbul dari kesetiaan (faithful) yang berasal juga dari keyakinan (faith). Gw ngambil pengertian tersebut dari sini.

OK tulisan ini sebenarnya gak hanya membahas soal kebenaran dan keyakinan ajah. Tapi juga dampak dari kebenaran yang bersumber dari keyakinan itu. Kebanyakan saat kita mengetahui kebenaran, baik melalui perkataan maupun perbuatan yang kita lihat atau alami sendiri maka yang terjadi adalah proses penyangkalan alias denial. Karena gak mudah sama sekali untuk menerima kebenaran. Alasannya menurut gw paling utama karena kebenaran itu tidak sesuai dengan ekspektasi kita.

Entah kenapa gw yakin naturnya manusia hanya mau yang enak-enak, meski hal itu palsu ato tiruan. Ketika manusia mendapati kebenaran yang tidak enak maka manusia akan menuntut “kebenaran versinya sendiri” (dari yang ia yakini, yang kali ini gw kategorikan sebagai pembenaran) termasuk dengan melakukan pembalasan versinya sendiri hingga ia merasa bahwa orang yang menunjukkan kebenaran itu kepada dirinya mendapat balasan yang setimpal.

Gw gak tau kenapa hal itu terjadi tapi keknya emang manusia susah ngeliat orang lain senang dan senang ngeliat orang lain susah, fufufu. Inilah fase dimana pembenaran digeret sedemikian rupa untuk jadi kebenaran. Jadi saat kita mendapati kenyataan bahwa ada hal-hal yang sudah kita persiapkan dengan seksama dan kita sudah memperkirakan hasilnya akan menguntungkan kita tapi ternyata tidak terjadi kek ada plastik berisi racun biologis yang menggelembung di dada dan siap meledak untuk disiram ke kenyataan (kebenaran itu).

Tapi lucunya (atau tragisnya ya) beda orang akan beda efek ledaknya. Ada orang yang emang tega jadi meledakkan racunnya kena ke dirinya dan ke orang lain di sekitar dia tapi ada juga orang yang gak tegaan jadi racunnya meledak sendiri dan ditelen sendiri. Pembenaran itu dia bawa-bawa sendiri dalam dirinya untuk diyakini sebagai kebenaran meski hanya racun belaka.

Syukurlah tepat 17 Juni 2018 lalu gw belajar mengenai firman ini: 2 Petrus 3: 9-13

Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat. Tetapi hari Tuhan akan tiba seperti pencuri. Pada hari itu langit akan lenyap dengan gemuruh yang dahsyat dan unsur-unsur dunia akan hangus dalam nyala api, dan bumi dan segala yang ada di atasnya akan hilang lenyap. Jadi, jika segala sesuatu ini akan hancur secara demikian, betapa suci dan salehnya kamu harus hidup yaitu kamu yang menantikan dan mempercepat kedatangan hari Allah. Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Tetapi sesuai dengan janji-Nya, kita menantikan langit yang baru dan bumi yang baru, di mana terdapat kebenaran.

Kalau NIV-nya:
The Lord is not slow in keeping his promise, as some understand slowness. Instead he is patient with you, not wanting anyone to perish, but everyone to come to repentance. But the day of the Lord will come like a thief. The heavens will disappear with a roar; the elements will be destroyed by fire, and the earth and everything done in it will be laid bare. Since everything will be destroyed in this way, what kind of people ought you to be? You ought to live holy and godly lives as you look forward to the day of God and speed its coming. That day will bring about the destruction of the heavens by fire, and the elements will melt in the heat. But in keeping with his promise we are looking forward to a new heaven and a new earth, where righteousness dwells.

Penekanan pada:
1. Not slow in keeping his promise
2. He is patient with you
3. Everyone to come to repentance
4. Thief
5. To live holy and godly lives
6. Destruction of the heavens by fire and the elements will melt in the heat
7. Righteousness

Janji Tuhan bukan soal kekayaan, kesejahteraan, popularitas, pasangan hidup yang wow, pengalaman keliling dunia, kenal dan dekat orang-orang terkenal, dipuja-puji khalayak, ato lain-lainnya, melainkan soal kebenaran. Kebenaran yang dari tadi gw bahas panjang-lebar dan bergantung pada keyakinan masing-masing orang dan punya ekses terhadap penerimaan orang-orang tersebut untuk menerima kebenaran yang terungkap tadi.

Hmmmm, beberapa waktu lalu gw pun dapat tawaran untuk nerima duit dalam jumlah lumayan dan gak perlu ngapa-ngapain, cuman perlu datang ke rumah pejabat ituh ajah, cuman gw ragu karena walau gw lagi butuh duit banget buat merealisasikan rencana-rencana yang emang lagi banyak di kepala doang tapi minim implementasi pengumpulan duit, tapi gw gak yakin bahwa kalo gw terima uang itu adalah tindakan yang benar. Akhirnya gw gak ngambil uang itu, dan belakangan gw tau dari temen gw jumlahnya memang mayan banget tuk anak qismin kek gw. Tapi eksesnya juga bisa gede: selain gw bisa ketagihan “ngarep” duit, ya persepsi gw di matanya dia juga bisa “dibeli” walo gw anaknya suka murah ama kek gituan sih, fufufu. Terus setelah diskusi sama dua orang yha, itu bisa disebut pilihan hidup yang emang gak mengenakkan, cuman gw meyakini bahwa tindakan gw itu benar walo eksesnya gw tetep qismin dan sempat bengong seharian karena nolak duit yang menurut gw sebenarnya gak berdampak apa-apa saat itu (dampaknya baru jangka panjang ajah).

Cuman akhirnya gw mengambil kesimpulan, what goes around comes around, kalo lo nerima hal yang menurut lo bukan suatu kebenaran, maka kepalsuan juga yang akan datang ke lo, xixixixi.

Lagian emang apa sih yang dicari manusia yang waktu hidupnya sangat sebentar ini? Sejarawan Yuval Noah Harari dalam bukunya yang baru gw baca sepotong-potong “Sapiens, A Brief History of Humankind” bilang “If happiness is based on feeling pleasant sensations, then in order to be happier we need to re-engineer our biochemical system. If happiness is based on feeling that life is meaningful, then in order to be happier we need to delude ourselves more effectively. Both views share the assumption that happiness is some sort of subjective feeling and in order to judge people’s happiness, all we need to do is ask them how they feel. The problem, Youval quote Buddhism, is that our feelings are no more than fleeting vibrations, changing every moment, like the ocean waves. If five minutes ago I felt joyful and purposeful, now these feelings are gone, and I might well feel sad and dejected. So if I want to experience pleasant feelings, I have to constantly chase them, while driving away the unpleasant feelings. Even if I succeed, I immediately have to start all over again, without ever getting any lasting reward for my troubles. But once you stop craving particular feelings, you can just accept them for what they are. You live in the present moment instead of fantasizing about what might have been. The recommendation is to stop not only to pursuit of external achievements, but also the pursuit of inner feelings. The key to happiness is to know the truth about yourself – to understand who, or what, you really are. May be it isn’t so important whether people’s expectation are fulfilled and whether they enjoy pleasant feelings. The main question is whether people know the truth about themselves.

Again and again, truth is the only thing we need to say, do and accept in good or bad scenario.

Selamat datang kebenaran! 20/6/2018

Advertisements

Honest

Yah after being a splendid person with yes-or-no feeling regarding the same thing for days and weeks, I finally made a decision. Well, the decision will not satisfied all parties, mostly for me, but following my own desire won’t put me to the next level either.

So although I even can’t understand and differentiate my own feeling and consideration, I choose to get rid all things that hampered me from the Almighty. Because after I deside it, I thought all the good things will follow –at least the good stuff according to my believe and for the sake everybody around me.

I can’t imagine what will happen in the future. I will close my eyes and trust my decision will open the other path I have chosen for. Well people can’t guess to whom they will meet with, but if the day come, I hope I open my eyes and ready for the new challenge and won’t go back. Forever.

As the chainsmoker said: there’s no end of hypocracy of human heart

Honest
It’s five A.M. and I’m on the radio
I’m supposed to call you, but I don’t know what to say at all
And there’s this girl, she wants me to take her home
She don’t really love me though, I’m just on the radio

And I’m not gonna tell you that I’m over it
‘Cause I think about it every night I’m not sober, and
I know I keep these feelings to myself
Like I don’t need nobody else
But you’re not the only one on my mind

If I’m being honest
If I’m being honest
You said I should be honest
So I’m being honest

It’s six A.M., I’m so far away from you
I don’t wanna let you down, what am I supposed to do?
It’s been three weeks at least, now, since I’ve been gone

And I don’t even like the road, I’m just on the radio
And I’m not gonna tell you that I’m over it
‘Cause I think about it every night I’m not sober, and
I know I keep these feelings to myself
Like I don’t need nobody else
But you’re not the only one on my mind

If I’m being honest
If I’m being honest
You said I should be honest
So I’m being honest

And I’m not gonna tell you that I’m over it
‘Cause I think about it every night I’m not sober, and
I know I keep these feelings to myself
Like I don’t need nobody else
But you’re not the only one on my mind

If I’m being honest
If I’m being honest
You said I should be honest
So I’m being honest

If I’m being honest

14 February 2018

Happy valentine’s day, happy birthday.

IMG_20180215_062031

Tentang Natal (2017)

Natal tahun ini mungkin beneran jadi Natal yang paling terasa anugerah kasih-Nya seumur hidup. Tentu tak lain karena harus benar-benar mengaplikasikan kasih itu, untuk berdamai dengan diri sendiri dan sesama karena suatu kondisi yang awalnya maniez tapi selanjutnya berganti rasa sebaliknya. Gw diharuskan untuk melepas dan menerima apa yang Tuhan telah tetapkan untuk umat-Nya.

Teguran sekaligus pemeliharaan Tuhan gw rasakan melalui liturgi, lagu hingga firman yang disampaikan pada ibadah malam Natal 24 Desember maupun ibadah pagi Natal 25 Desember, antara lain adalah:
1. Mazmur 147:3
Ia menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka; (ITB)
He heals the brokenhearted and binds up their wounds (NIV), wakakakaka
2. Refleksi pengakuan dosa dimana manusia memilih untuk melawan kehendak Allah. Manusia hanyut dalam pemikiran dan keinginannya sendiri, lemah dan tidak mampu membedakan mana yang baik dan jahat. Namun Tuhan yang datang ke dunia untuk tinggal bersama manusia memampukan manusia berdosa untuk menghindar dari segala dosa. Kesalahan manusia telah dihapus dan dosa telah diampuni.
3. Kelahiran Kristus sendiri bukanlah berasal dari keinginan manusia melainkan dari Roh Kudus yang seluruhnya inisiatif Allah. Terpujilah Allah karena karya-Nya yang kekal.
4. Lukas 2:14
Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya (ITB)
Glory to God in the highest heaven, and on earth peace to those on whom his favor rests (ITB)
5. Lagu “Kepadamu: BN no 182 ayat 2:
Aku sering meninggalkan jalan kebenaranMu
Aku Kristen tapi malang, kejahatan kutempuh
Aku menyesal dan malu sujud di hadiratMu
Kasihilah hambaMu dan ampuni dosaku

Kalau bisa dibikin drama, ini udah kek drama anak yang hilang, hahahah, udah bener banget deh Natal tahun ini merasakan kasih anugerah Tuhan yang tetap menjaga, memelihara, mengampuni dosa, menyadarkan dan tetap setia dalam kondisi manusia yang tidak setia.

Tapi pulang gereja malah nonton Star Wars VIII: The Last Jedi di Depok. And like Master Yoda said: the greatest teacher failure is! Akhir tahun 2017 sungguh membawa pelajaran sangat berharga untuk memasuki tahun 2018. Pelajarannya adalah agar belajar untuk ikhlas dan tulus. Dalam bahasa inggris, kedua kata itu diterjemahkan menjadi satu kata: Sincere, yang berasal dari bahasa Latin: sincerus whole, pure, genuine, probably from sem- one + -cerus (akin to Latin crescere to grow, Merriam Webster). Mulai sekarang sampai seterusnya, gw harus terus mengupayakan untuk jujur, tulus, sepenuh hati kepada Tuhan, sesama dan diri sendiri.

Sehingga yang terutama adalah: Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu…Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Matius 22:37,39).

Semangat menaklukkan dunia Des!

25 Desember 2017

DSCF9663
mejeng di floating market
DSCF9667
mencoba akrab dengan si mbul-mbul *nama domba ndut
DSCF9691
menunggu yg gak jadi ditunggu
DSCF9746
yihaaaaa…
DSCF9762
selamat nataaaal
DSCF9768
sipping from bb8 head, I hope my head can chill out as his head

Tentang Egois

Gw lupa pernah baca atau nonton di mana, yang jelas kalimatnya dalam bahasa Inggris dan ngomong seperti ini: sekali seumur hidup, lo harus melakukan sesuatu yang lo gak pernah rencanakan dan bayangkan sebelumnya. Bahasa kerennya,

once in a lifetime you have to do an irregularity, unlock your oddity, give room for your intuition to survive in the saga.

Jadi di sinilah gw, di kota yang udah beberapa kali gw kunjungi baik untuk kerja maupun kegiatan lainnya tapi tetap aja gak familiar dengan kota ini. Alasan kedatangan gw hanya karena satu hal. Satu hal yang gw pun gak pernah pikirkan, bayangkan, rencanakan sebelumnya, bukan gw banget lah, hahaha.

Kayaknya bener apa yang disebutkan oleh satu buku yang baru-baru ini gw baca juga. Kata buku itu, sebagian penalaran manusia akan lumpuh saat mengalami satu hal. Dan hal itu sepertinya lagi terjadi ke gw, udah keluar uang, buang waktu tapi hasil dari aktivitas itu belum jelas. Bisa ada hasilnya, bisa juga enggak.

Asli biasanya gw selalu mematok target untuk setiap hal yang gw lakukan, kalau gak target yang riil bisa juga target normatif. Ini sama sekali gak ada target, luntang-lantung dalam arti sebenarnya, selalu bergumam kalau orangnya mau ya syukur kalau gak mau yah ini kan pilihan gw juga, jangan pernah menyesali pilihan yang udah gw buat dan jangan menyalahkan orang lain. Sebegitu gak perhtungannya gw untuk hal ini padahal sama keluarga ajah gw perhitungan. Walau pun gw gak pernah secara lantang mengakui apa yang gw alami ke orang lain, karena gw pun gak yakin mengenai hal itu ke diri gw, tapi sepertinya ini yang sedang terjadi sekarang.

Gw jadi egois untuk satu orang tertentu, aseli ini gak pernah terjadi sebelumnya, hahaha.

Tapi H-6 gw bertambah usia, mungkin di saat inilah gw bisa berpikir dengan jujur dan sungguh-sungguh mempertimbangkan semuanya. Pertama kehendak Tuhan dan selanjutnya tetap kehendak Tuhan. Gw masih cukup logis untuk menyatakan kehendak Tuhan sebagai yang utama, tapi kenapa untuk hal ini gw masih sangat tidak bisa mencerna apa kehendak-Nya.

Tapi setidaknya satu hal yang gw yakini dan sukai: pekerjaan ini memberikan waktu super fleksibel untuk gw melakukan apa yang gw mau (dan gw butuh juga). Sangat tidak terikat sekaligus membuat gw harus bertanggung jawab penuh untuk segala hal yang gw kerjakan, gak bisa paroh-parohan tanggung jawab. Dan gw bersyukur sekaligus ingin tetap seperti itu, walau untuk selanjutnya harus terus memperbaiki diri.

Kembali kepada hal yang sedang gw alami saat ini, gw pun tidak menyesalinya. Sekali lagi ini adalah pelajaran yang berharga. Pelajaran apa? Untuk pasrah, untuk tetap memegang prinsip yang gw yakini, untuk tetap hanya berharap kepada Tuhan dan bukan kepada manusia. Bukan berarti gw kecewa dengan manusia, tapi memang percaya bahwa semuanya terjadi atas sepengetahuan-Nya dan sesuai dengan waktu-Nya. Klise? Tapi itulah yang memang terjadi, sedang dan akan terus terjadi.

Jadi apa yang akan gw lakukan selanjutnya? Tetap bergantung kepada Tuhan Sang Pencipta, tidak membandingkan perjalanan hidup gw dengan orang lain, rajin berdoa dan bekerja, hidup sehat.

Yah itulah egois versi gw

20171205_09033020171204_185115

Bdg, 5 Desember 2017

Math

I always become a big fan of math. I memorized the one to ten multiplications since my second grade of elementary school, I learn how the divisible process in the same grade and no mention how I sense the plus-and-minus theory in my very young age.

I amaze how the pattern in math can produce the flow of logical thinking that absolutely logic. I can’t put the result of the arithmetic, algebra, geometry, calculus, trigonometry in approximately number. The math logic working in linear pattern. If I try to investigate the problem by using multiple ways, the result is the same and firm.

Maybe that’s why I’m a big fan of math, due to its solid and constant character.

But, math never pay back my affection. I never become the best in my math class. I even have to put all my effort to accomplish the standard in my math problem. I have to take an additional course in math so that I can absorb the whole math logic –even when I did so, there’s no guarantee I can pass the math test satisfyingly. There was a time (or in fact many times) I try to seduce the math to follow my wish so that we can be closer and understand each other, but the math rejects it, by a subtle way. When I think I can influence math to fulfill my desire, the math pop out the new formula to tackle my first plan, and repeat. This condition put me to choose other subjects as my favorite. I can’t help myself if I lose too much in math and still hope for it. Well I guess it’s one-sided love.

But it did not lessen my amazement to math logical thinking. No one can measure or assess something in their lives by excluding math formula. Whereas the measurement is really important as the benchmark of everything you are hope and accomplish. I hope I can have a better relation with math in my next life. Math is too enchanting to be skipped in my life, but for now, I need to sweep it under the rug and forget it existence for a while.

23 November 2017