Tentang Sariawan

Udah lama nih gak update blog. Mungkin karena udah punya jurnal tertulis. Tapi belakangan jurnalnya juga mandek. Jadi serba salah.

Jadi pagi ini gw baca tulisan tentang Prof Dr Sawitri Supardi Sadarjoen Psi Klin, seorang psikolog klinis senior yang terpilih menjadi cendekiawan berdedikasi Kompas. Prof Sawitri mengatakan bahwa “Banyak kasus sakit fisik yang dialami seseorang merupakan manifestasi gangguan atau ketegangan emosional yang dialami si penderita. Ketegangan emosional itu disalurkan ke bagian tubuh yang paling lemah sehingga terjadilah gangguan soma (fisik). Misalnya orang yang mengalami gastritis (maag) berarti maag itu bagian terlemah dari tubuhnya, setiap orang berbeda.”

Gw langsung keinget “sakit fisik” gw dalam sebulan terakhir yaitu sariawan. Kemunculan si sariawan ini sangat gw ingat yaitu pada Kamis, 22 Juni 2017 karena ada tragedi tertentu yang antara penting dan gak penting hari itu, lumayan bikin mewek dan semoga udah selesai hari itu juga. Sebenarnya stres yang gak penting-penting amat sih.

Kalau dipikir-pikir belakangan ini gw banyak mikirin hal yang gak penting-penting amat tapi gak bergerak untuk menyelesaikan hal yang penting, kek jadi set back gitu. Bukannya move on tapi malah nyaris kembali ke masa-masa kekelaman by overthinking and do nothing, padahal banyak hal yang bisa dilakukan tanpa perlu mikir-mikir banget.

Sebenarnya ini balik lagi ke tujuan gw, mau mengejar yang sementara atau yang kekal. This obviously should be clear and bold. Persoalannya walaupun udah diniatin tapi seperti katanya Paulus dalam Roma 7:19 “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat”. Jadi gimanah? Pasrah dan nerima terombang-ambing begitu ajah?

Setelah dipikir-pikir (lagi), tujuan berganti menjadi proses dan proses pun berubah menjadi tujuan. Menuju ke tujuan melalui proses menjadi suatu perjalanan tersendiri yang membutuhkan daya tahan alias perseverance yang kemudian malah menjadi tujuan itu sendiri. Seperti sub-sub dialektika dalam pandangan para konstruktivis yang saling mempengaruhi dan bergumul untuk menunjukkan kekuatan masing-masing tapi tanpa disadari malah berujung pada suatu tujuan baru dengan proses yang tidak diperkirakan sebelumnya. Membingungkan ya?

Lalu secara acak gw membaca “Mere Christianity“-nya CS Lewis yang belom kelar juga gw baca. Dalam bab The Cardinal Virtues, Lewis menuliskan seperti ini “What you mean by a good tennis player is a man whose eye and muscles and nerves have been so trained by makin innumerable good shots that they can now be relied on. They have a certain tone or quality which is there even when he is not playing. In the same way a man who perseverences in doing just actions gets in the end a certain quality of character. Now it is that quality rather than the particular actions which we mean when we talk of a “virtue” .”

The point is people have got at least the beginnings of those qualities inside them, and there should be no possible external condition could make a ‘heaven’ for them –that is, could make them happy with the deep, strong, unshakable kind of happiness God intends for us.

Well, well, well, I must admit that I’m still far far away from the deep, strong, un-shakable kind person before God. But I wanna be the one. Sebenarnya keinginan gw cuma melakukan ini buat nyokap, melakukan itu buat bokap dan melakukan onoh buat adek gw. Tapi apakah hal itu emang yang diinginkan Yang Maha Kuasa? Dalam perjalanannya kalau gw merasa makin egois dan makin mencari aman dan makin mencari keuntungan diri sendiri, itu sudah cukup menyatakan bahwa keinginan-keinginan itu bertentangan dengan kehendak Yang Maha Kuasa karena tidak ada perseverance yang terbentuk dari melayani diri sendiri. Bukan berarti gw harus kerja tanpa istirahat atau hidup asketisme, tapi mengambil dimensi yang lain yaitu pasrah tanpa kehilangan harapan dan giat dengan tetap melekat kepada Tuhan.

Persoalannya memang manusia itu maha terbatas terhadap hal-hal yang kekal tapi maha tidak terbatas (keinginannya) terhadap hal-hal yang sementara. Inilah kenapa perlu ada waktu-waktu refleksi yang teratur dan terukur agar bisa mengecek arah setiap saat dan bukan hanya arah, melainkan cara menuju tujuannya pun harus baik-baik diperiksa agar tidak melulu melayani diri sendiri.

Semoga bukan cuman jadi tulisan

PS: ini tulisan sama gambar gak ada kaitannya sih, cuman pengen pamer makanan ajah

20170615_193229
refleksi bisa dilakukan sambil menikmati bacon beef burger
20170615_205433
bisa juga sambil makan es krim di atas brownies
20170613_201736
atau makan sirloin yang udah mateng
Advertisements

Selamat ulang tahun pada tahun ini!

Gw lupa apakah gw pernah menuliskan kalimat ini sebelumnya: waktu masih kecil, gw pikir umur manusia terhenti pada usia 25 tahun, dan manusia tidak akan beranjak tua. Namun pemikiran ini tentu salah sama sekali. Usia 25 tahun sudah gw lalui beberapa tahun yang lalu dan usia sekarang adalah usia yang sama sekali jauh dari bayang-bayang.

Tahun ini dilalui dengan banyak hal yang patut disyukuri mulai dari pengalaman penjelajahan berbagai hal dan tempat hingga perkenalan dengan super banyak orang-orang baru maupun orang lama yang kemudian baru kenal dekat. Relasi antarmanusia mungkin jadi misteri yanng paling misteri dalam hidup sehari-hari, dinamikanya tidak bisa ketebak, and sometimes it’s sucks.

Persoalannya adalah gw adalah salah satu orang yang tipe “pengontrol” atau “perencana”, bakal gusar luar biasa saat rencana awal berantakan. Sayangnya gw selalu lupa ini: I never can control my own life since there are so much magnificent thing I can not control at all. Padahal Tuhan sudah kasih peringatan pada 2013 lalu untuk mengosongkan isi perahu agar gw hanya bergantung kepada Dia, tapi seiring berjalannya waktu, gw malah mengisi perahu gw dengan hal-hal “baik” menurut gw sampe-sampe perahu itu menuju tenggelam karena kelebihan muatan. Jadi sekali lagi gw harus mengosongkan perahu gw untuk memberikan ruang bagi Tuhan memimpin, bahkan untuk hal-hal yang gw rasa “super sangat baik”.

Pengalaman usia super di perbatasan yang gampang galaw membuat pun mengambil sejumlah kesimpulan:
1. Life by grace day by day, because you have no control to your own life, even in this very short life. Grace also means on God and persistence in prayer.
2. Life truthfully. Truth hurts. It bruises our ego, make us uncomfortable and calls for change, but it’s the only way to be found faithful.
3. Manage your promise, you don’t know how high expectation from other people when get your words, so do not make any fake expectation. You don’t know how much you or other people have to sacrifice to fulfill that expectation.

Jadi selamat bertambah dewasa pada usia yang baru Desca Lidya Natalia Situmorang.

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir (Pkbh 3:11).

ayam gulai setengah ekor, dimakan jam setengah enam pagi
ayam gulai setengah ekor, dimakan jam setengah enam pagi
ternyata birthday cake sushi-tei kecillll
ternyata birthday cake sushi-tei kecillll
unntuk pertama kalinya bawa orang rumah ke Sushi-Tei
unntuk pertama kalinya bawa orang rumah ke Sushi-Tei

Regarding Impromptu Moments

When you just walking around, you are not “just” walking because whether you realize it or not, you have such particular purpose while walking. The aim could be “just” strolling around, searching new point of view, exercising, recalling something or even hoping for an impromptu moment.

Impromptu is something alluring yet unpredictable, and that’s the fun part. You are hoping an impromptu occasion but have no idea what will be happen; and if it happened, you still do not have any idea what is going to be go on.

It’s not because I always like the impromptu moment. On contrary I enjoy when I think whether it is an impromptu occasion or not. I’m the planner one. I enjoy while achieving my goals by the mechanism. I have a specific expectation before. I do revel in to evaluate what adjustment I need to imply in future to enhance my achievement.

But later on, I learn something just happened as it is. You can plan as rigid and tidy as you can but in subconsciously you also “arrange” an impromptu moment. And voila you consumed in it.

I give some examples, you turn to wrong intersection, you keep your walk straight so that you just rotate the same route, you stumbling and losing your concentration (or vice versa), the wind blow up your hair and ruin your appearance, or even you meet someone who you never expected before. The new pals can be your counterpart, your future lover or even your foe. But again all of it is out of your expectation. You just have to admit that it is impromptu moment.

However, here’s the good news, while you are facing the impromptu moment you are not alone. Everybody also face the same situation and trying to snap it hardly! You are not alone in your conscious mind because there’s your unconsciousness that crawling into your mind, heart and soul to make your selfish conscious surrender only by one deep breath. And another crucial part is this impromptu moment will go through, because time is the real villain. The time will shape up your fragile mind so that you might conform with the impromptu effect or even prepare for the next impromptu steps. Thank God!

Nov, 6, 2016

Japan Trip – Day 8 – extended – 30, Oct, 2016

Nyampe Taoyuan Airport sekitar pukul 05.30! Hal pertama yang kami lakukan adalah nukerin duit, karena tentu di sini harus makan dong! Mereka ternyata terimanya uang rupiah dan bukan yen, TOP! Nuker Rp100 ribu ajah buat beli minum karena udah aus amat berhubung di Vanilla gak dapet air.

Bandaranya super rumae, dan yang bikin rame ternyata banyak amat kakak-kakak TKI dan TKW, kewl! Bahkan pas nanya-nanya ke counter pesawat kami sempat didatengin bandar TKW (kayaknya) ditanyain kok sendirian ngurus pesawatnya, tampang kami emang, huft! Pesawat kami baru berangkat 09.05. Tentu kali ini kami check in dulu sebelum ngapa-ngapain.

Ngapa-ngapain itu maksudnya gosok gigi, cuci muka, makan! Dan uang Rp100 ribu itu kalo dikonversi yah setidaknya dapet 208 taiwan dollar dan bisa untuk makan, minum ples beli pin 1 untuk membuktikan kami pernah ke Taiwan. Tapi tau mampir di Taiwan, mending sekalian beli hape yah (padahal ongkos pesawat masih ngutang).

Di pesawat China Airlines, tampak jelas banyak mas-mas dan kakak-kakak TKI-TKW yang berniat kembali ke berbagai daerah di tanah air tentu dengan kehebohannya masing-masing. Tapi yah terima ajah, berhubung ini pesawat yang lebih mahal dari si Vanilla (jatohnya sekitar 4 jutaan), jadi kami dapet makan. Dan entah kenapa gw milih fish rice, padahal kayaknya lebih enak bentukan chicken rise, karena si fish kurang garem gitu deh. Tapi nasi udah kemakan. gak bisa dituker lagi. Lagi pula gw ada bekal 3 onigiri yang dibeli di lawson, jadi lumayan juga untuk ganjel.

tiket yang angus dan tiket yang baru
tiket yang angus dan tiket yang baru
salah satu lorong Taoyuan Airport
salah satu lorong Taoyuan Airport

Gak sempet foto-foto suasana lagi karena udah sad ketinggalan pesawat dan mikirin bayar tiket tambahan *edisi klimaks dari drama perjalanan.

Penerbangan butuh waktu sekitar 4,5 jam, jadi kami nyampe sekitar 13.30 WIB, yipppi!! Setelah ngurus-ngurus bagasi dan sebagainya yang hampir sejam, gw, ayu dan ucan pun berpisah sambil berjanji akan cari rezeki banyak-banyak bulan ini demi melunasi tiket si vanilla dan china airways. Bisa jadi cara mendapat rezeki pertama adalah dengan ngejar gereja jam 6 sore ini! Hail yeah!

Japan Trip – Day 7 – 29, Oct, 2016

Sediiih deh karena hari ini bakal jadi hari terakhir kami di Jepang, hiks hiks. Meski rencananya mau ke Universal Studio of Japan, tapi apa daya karena badan udah renta dibawa jalan-jalan selama 6 hari dengan minim istirahat, akhirnya kami memutuskan ke Tempozan Ferris wheel. Kami ke sini dengan naik kereta (tapi lupa berapa harga karcisnya). Untuk masuk ke kincir juga harus bayar 800 yen. Kami memutuskan untuk naik tempat yang transparan meski harus nunggu agak lama karena satu wahana itu, tempat transparannya cuma ada 4. Tapi worth it karena bisa foto-foto sampe puas. Oh ya si kincir ini gak seperti wahana bianglala di dufan yang ada masa kenceng dan pelannya, karena 800 yen cuman untuk satu kali putaran yang pelan, jadi manfaatkan sebaik mungkin lah waktu di atas itu.

 briller osaka (1)
briller osaka (1)
briller osaka (2)
briller osaka (2)
what a sunny day!
what a sunny day!
pay attention to the orange part
pay attention to the orange part
view from the bottom
view from the bottom
foto karcis
foto karcis
pemandangan dari atas (1)
pemandangan dari atas (1)
pemandangan dari atas (2)
pemandangan dari atas (2)
hmmm ya ya ya
hmmm ya ya ya
jajanan yang rasanya kayak kue cubit
jajanan yang rasanya kayak kue cubit

Karena masih jam 1 sedangkan pesawat itu 4.40 dan kami udah web check in, maka dengan nekat kami pergi ke Osaka Castle yang jaraknya 4 stasiun dari Nambo, tempat terminal bus Damri-nya untuk nyampe ke bandara.

 Osaka Castle
Osaka Castle
Osaka Castle tampak depan
Osaka Castle tampak depan
banyak turis
banyak turis
mungkin keluarga raja
mungkin keluarga raja
dscf8874
the castle wall
bahkan ada yang kemah
bahkan ada yang kemah
besoknya (tanggal 30 Oktober 2016) ternyata mau ada Osaka Marathon, duh seru deh
besoknya (tanggal 30 Oktober 2016) ternyata mau ada Osaka Marathon, duh seru deh
pake baju Dashiki kembaran di Osaka Castle
pake baju Dashiki kembaran di Osaka Castle

Dan dari sinilah muncul drama yang akan gw inget seumur hidup! Yaitu ketinggalan pesawat. Ini emang karena kenekatan kami banget sih. Jadi pesawat 16.40 tapi pukul 15.10 kami baru naik bus Damrinya. Parah banget yah! Jadi nyampe Kansai International Airport ya baru 16.00. Pas ngantri mau masup dan nunjukin print web check in yang jelas-jelas ada nomor kursi alias udah jadi boarding pass eh DITOLAK! Dan pas nanya ke petugas bandaranya, si petugas juga refer ke petugas counter check in air asia, tapi ternyata di counter udah gak nemu lagi orang.

Petugas air asia-nya pun dipanggil tapi lama amat dan itu udah 16.30, kami udah pesimis ajah bisa naik itu pesawat dan bener ajah pas petugasnya dateng malah doi marah-marah dan bilang kalau print web check in itu bukan boarding pass meski udah ada nomor kursinya. Mamam!

angsung lemes karena gak dapat solusi dan solusi yang ada adalah harus beli tiket baru, sad! Udah bingung mau ngapain apalagi pas nanya ke informasi ternyata counter-counter maskapai pada tutup karena itu hari sabtu dan hotline cuma ada pas weekdays! Dan kami akhirnya nyoba-nyoba nyari penerbangan, tapi sedihnya itu penerbangan pada mahal-mahal amat, kalau gak mahal ya udah abis. Salah satu yang dicoba adalah Garuda Indonesia dan Malaysia Airlines baik direct flight ke Jakarta maupun mampir ke KL atau Singapura (sebenarnya nyari yang nyampe KL sebelum jam 8 pagi karena kan kami masih ada tiket KL-Jakarta pukul 08.25) tapi gaaaak ada dongg…

Sempat mau nekat untuk nanya humas Garuda dan minta korting tapi gak jadi berhubung tiket Garuda KIX-CGK ajah 13 juta! Ya keles bayar segitu untuk sekali penerbangan. McD pun akhirnya menjadi tempat berlabuh, sambil nyari-nyari flight, numpang wifi dan numpang nge-charge. Akhirnya dapetlah dari website skyscanner ada penerbangan yang paling terjangkau dan paling cepet (gak harus nyampe hari Senin) yaituu naik Vanilla Air dari Kansai ke Taipei dan lanjut pake China Airways ke Jakarta dengan harga total kayaknya sekitar Rp5,7 juta! Kyaaaaaa… yah tapi dari pada gak pulang yaah?

Tapi apa itu Vanilla Air? Orang-orang Indo yang ditanya hampir semua gak tau apa itu Vanilla Air, bahkan ada yang bilang Vanilla Air itu sejenis cocktail, ckckck. Dan Vanila Air itu ternyata low-cost airplane-nya All Nippon Airways. Persoalan masih muncul karena untuk bisa tiba di Taiwan harus ngurus visit visa dulu meski gratis karena kami punya visa Jepang, tapi kaan tetep repot karena harus ngisi-ngisi form dan print visa. Belom nyari tempat ngeprint di kansai dan mengoperasikan mesin printer yang semuanya dalam bahasa Jepang. Aseli ini perjalanan pulang terdrama yang gak akan terlupakan lah!

Balik lagi ke Vanilla Air, bagaimana rasanya di Vanilla? Yah berhubung ini low-cost, jadwal penerbangan dapetnya 03.15 dari Kansai, dan dari imigrasi awal sampai ke gate pesawat emang ternyata super panjang dan harus naik shutle train dulu, pantes gak akan kekejar kalo nyampe bandara pukul 16.00 dan penerbangan 16.40, zzzz. Si kursinya Vanilla aseli keras dan sempiiiitt! dan itu kan jam 3 pagi yang tentu ngantuk karena belom tidur tapiii susah amat buat tidur karena kalo buka meja untuk nunduk gak bisa dan cuman nyampe separoh badan doang karena si kursinya sempit dan kalo nyender ke jendela juga kepentok lagi-lagi karena alasan sama. Si pramugari juga tampangnya yah sekadarnya ajah dan tentu jangan harap dikasih makanan atau jualan apapun di pesawat, bisa nyampe Taipei ajah udah syukurlah!

KIX jam 2 pagi
KIX jam 2 pagi