Pontius Pilatus

Saya jadi tertarik membahas Pontius Pilatus yang selalu disebutkan dalam pengakuan iman percaya. “Yang menderita sengsara di bawah pemerintahan Pontius Pilatus…”. Pilatus adalah wali negeri (gubernur) Yehuda, salah satu daerah di bawah penjajahan Romawi. Ia memang tidak terlalu suka dengan orang Yahudi. Salah satu tafsiran menyebutkan “Pilate as a cruel, imperious, and insensitive ruler who hated his Jewish subjects and took few pains to understand them”.

Namun Injil juga mengatakan bahwa Pilatus tidak mendapati kesalahan Yesus saat Yesus dihadapkan kepadanya oleh para imam kepala (Aku tidak mendapati kesalahan apapun pada orang in, Luk. 23:4), istrinya juga tahu Yesus orang benar (Mat. 27:19), sehingga Pilatus melakukan sejumlah usaha untuk membebaskan Yesus dari hukuman salib seperti (1) mengirim Yesus ke Herodes (Luk. 23:6-12); (2) menyarankan agar Yesus hanya dihukum badan saja tapi tidak sampai mati (Luk. 23:16);(3) mencoba untuk mengembalikan Yesus ke otoritas Yahudi (Yoh. 19:16), (4) kembali membawa Yesus ke kursi pengadilan (Yoh. 19: 13); walau akhirnya Pilatus menyerahkan Yesus untuk disalib sesuai keinginan orang banyak.

Well, manusia banget sih kalau melihat sampai sini karena Pilatus menghadapi tekanan massa atas orang yang sodaranya bukan, kenalannya bukan, jadi ngapain juga repot-repot dibela? Orang Yahudi pulak! Dia pun cuci tangan dan melimpahkan kesalahan pada orang banyak yang telah dihasut oleh imam-imam kepala. Artinya ya cari aman untuk diri, keluarga dan jabatan politisnya. Menyerah untuk sesuatu yang menjadi “tanggung jawabnya” yaitu menjaga agar kawasan Yehuda damai dan tidak memberontak. Satu nyawa ilang tidak terlalu berarti demi ketenangan umat dan pejabat.

Tindakan mengamankan diri sendiri ini menurut saya jamak dipraktikkan saat ini. Saya mengaku sering memilih jalan pengamanan diri sendiri. Yah siapa sih yang mau cari repot dan kesulitan? Lebih mudah untuk mengikut jalan umum yang bisa saja mengorbankan mereka yang terpinggirkan karena setiap orang kan menanggung kesulitannya masing-masing? Yah misalnya ngapain juga repot-repot kasih bangku di busway yang panasnya naujubile ke orang yang tampaknya membutuhkan? Macam bapak/ibu tua/ibu hamil/ibu punya anak, salah sendiri mereka naik kendaraan umum yang gak manusiawi dan salah pemerintah daerah juga yang gak merawat busway dan salah operator busway yang cuman naikin gaji pengemudi tapi gak beresin fasilitas!

Sayangnya “panggilan” seorang yang sudah mengenal Yesus Kristus tidak seperti itu. Yesus dalam kisah tersebut diam dan tidak membela diri, malah memberi diri untuk disesah (dicambuk dengan cambuk dari kulit binatang yang dipasang tulang-tulang sampai ujung cambuk sehingga saat cemeti mendarat di punggung-Nya kulit (dan mungkin daging) Yesus ikut tercabut). Selanjutnya masih ada hukuman salib. Ini jadi bukti tanggung jawab-nya sebagai Kristus (Yang Diurapi oleh Tuhan). Dia yang dipilih Allah menjadi Penyelamat dan Tuhan.

Hiks, sudah dipilih Tuhan, lalu mau apa lagi? Yah cuman nyerah ajah untuk tidak memikirkan kepentingan diri sendiri dan maju sampai pada akhirnya. Mudah diucapkan dan dituliskan tapi sama sekali tidak gampang saat dijalankan. Bukan hanya perlu tekad dan kengototan untuk tetap taat dan setia tapi juga tutup kuping dan tutup mata dari mereka yang meragukan dan tidak meyakini jalan yang ditempuh. Ini tidak semudah seperti pesan makanan siap saji yang tinggal nelpon dan ngumpulin uang untuk bayar tapi mungkin macam biksu Tong yang cari kitab ke Barat di kisah Kera Sakti. Yah, analoginya mungkin tidak tepat. Atau macam Pontius Pilatus yang sudah dipilih menjadi orang berkuasa untuk memutuskan hukuman penyaliban.

Advertisements

Mimpi

Pada suatu bagian kehidupan ada yang disebut mimpi. Harumi Murakami dalam novelnya “Sputnik Sweetheart” menggambarkannya seperti ini: In dreams you don’t need to make any distinctions between things. Not at all. Boundaries don’t exist. So in dreams there are hardly ever collisions. Even if there are, they don’t hurt. Reality is different. Reality bites. Namun hingga saat ini saya tidak percaya mimpi, atau lebih tepatnya tidak mau percaya. Mungkin yang ada adalah harapan yang untuk menjalani tanggung jawab di depan mata. Dulu mimpi saya adalah pergi bertualang, tapi hal itu tak cocok untuk datang dan saya juga ingin bahagia tapi bahagia itu adalah saat mencapai tujuan akhir sementara perjalanan saya belumlah berakhir. Jadi apa yang tersisa dari mimpi? Hanya penyerahan diri bukan kepada kaki yang melangkah tetapi kepada Yang Kuasa untuk tidak patah meski tahu dapat terjatuh.

Waktu

Kadang kita bermain-main dengan waktu, kadang dengan percaya dirinya berkata tidak ada yang disesali dari waktu yang telah terlewati. Namun pada kenyataannya waktu pun menertawai kita yang dengan sombong menentang waktu. Dia terus berjalan, kemudian berlalu tanpa harus diam berpikir menentukan arah tujuan karena waktu hanya punya pandangan yang satu yaitu maju.