Tentang Egois

Gw lupa pernah baca atau nonton di mana, yang jelas kalimatnya dalam bahasa Inggris dan ngomong seperti ini: sekali seumur hidup, lo harus melakukan sesuatu yang lo gak pernah rencanakan dan bayangkan sebelumnya. Bahasa kerennya,

once in a lifetime you have to do an irregularity, unlock your oddity, give room for your intuition to survive in the saga.

Jadi di sinilah gw, di kota yang udah beberapa kali gw kunjungi baik untuk kerja maupun kegiatan lainnya tapi tetap aja gak familiar dengan kota ini. Alasan kedatangan gw hanya karena satu hal. Satu hal yang gw pun gak pernah pikirkan, bayangkan, rencanakan sebelumnya, bukan gw banget lah, hahaha.

Kayaknya bener apa yang disebutkan oleh satu buku yang baru-baru ini gw baca juga. Kata buku itu, sebagian penalaran manusia akan lumpuh saat mengalami satu hal. Dan hal itu sepertinya lagi terjadi ke gw, udah keluar uang, buang waktu tapi hasil dari aktivitas itu belum jelas. Bisa ada hasilnya, bisa juga enggak.

Asli biasanya gw selalu mematok target untuk setiap hal yang gw lakukan, kalau gak target yang riil bisa juga target normatif. Ini sama sekali gak ada target, luntang-lantung dalam arti sebenarnya, selalu bergumam kalau orangnya mau ya syukur kalau gak mau yah ini kan pilihan gw juga, jangan pernah menyesali pilihan yang udah gw buat dan jangan menyalahkan orang lain. Sebegitu gak perhtungannya gw untuk hal ini padahal sama keluarga ajah gw perhitungan. Walau pun gw gak pernah secara lantang mengakui apa yang gw alami ke orang lain, karena gw pun gak yakin mengenai hal itu ke diri gw, tapi sepertinya ini yang sedang terjadi sekarang.

Gw jadi egois untuk satu orang tertentu, aseli ini gak pernah terjadi sebelumnya, hahaha.

Tapi H-6 gw bertambah usia, mungkin di saat inilah gw bisa berpikir dengan jujur dan sungguh-sungguh mempertimbangkan semuanya. Pertama kehendak Tuhan dan selanjutnya tetap kehendak Tuhan. Gw masih cukup logis untuk menyatakan kehendak Tuhan sebagai yang utama, tapi kenapa untuk hal ini gw masih sangat tidak bisa mencerna apa kehendak-Nya.

Tapi setidaknya satu hal yang gw yakini dan sukai: pekerjaan ini memberikan waktu super fleksibel untuk gw melakukan apa yang gw mau (dan gw butuh juga). Sangat tidak terikat sekaligus membuat gw harus bertanggung jawab penuh untuk segala hal yang gw kerjakan, gak bisa paroh-parohan tanggung jawab. Dan gw bersyukur sekaligus ingin tetap seperti itu, walau untuk selanjutnya harus terus memperbaiki diri.

Kembali kepada hal yang sedang gw alami saat ini, gw pun tidak menyesalinya. Sekali lagi ini adalah pelajaran yang berharga. Pelajaran apa? Untuk pasrah, untuk tetap memegang prinsip yang gw yakini, untuk tetap hanya berharap kepada Tuhan dan bukan kepada manusia. Bukan berarti gw kecewa dengan manusia, tapi memang percaya bahwa semuanya terjadi atas sepengetahuan-Nya dan sesuai dengan waktu-Nya. Klise? Tapi itulah yang memang terjadi, sedang dan akan terus terjadi.

Jadi apa yang akan gw lakukan selanjutnya? Tetap bergantung kepada Tuhan Sang Pencipta, tidak membandingkan perjalanan hidup gw dengan orang lain, rajin berdoa dan bekerja, hidup sehat.

Yah itulah egois versi gw

20171205_09033020171204_185115

Bdg, 5 Desember 2017

Advertisements

Math

I always become a big fan of math. I memorized the one to ten multiplications since my second grade of elementary school, I learn how the divisible process in the same grade and no mention how I sense the plus-and-minus theory in my very young age.

I amaze how the pattern in math can produce the flow of logical thinking that absolutely logic. I can’t put the result of the arithmetic, algebra, geometry, calculus, trigonometry in approximately number. The math logic working in linear pattern. If I try to investigate the problem by using multiple ways, the result is the same and firm.

Maybe that’s why I’m a big fan of math, due to its solid and constant character.

But, math never pay back my affection. I never become the best in my math class. I even have to put all my effort to accomplish the standard in my math problem. I have to take an additional course in math so that I can absorb the whole math logic –even when I did so, there’s no guarantee I can pass the math test satisfyingly. There was a time (or in fact many times) I try to seduce the math to follow my wish so that we can be closer and understand each other, but the math rejects it, by a subtle way. When I think I can influence math to fulfill my desire, the math pop out the new formula to tackle my first plan, and repeat. This condition put me to choose other subjects as my favorite. I can’t help myself if I lose too much in math and still hope for it. Well I guess it’s one-sided love.

But it did not lessen my amazement to math logical thinking. No one can measure or assess something in their lives by excluding math formula. Whereas the measurement is really important as the benchmark of everything you are hope and accomplish. I hope I can have a better relation with math in my next life. Math is too enchanting to be skipped in my life, but for now, I need to sweep it under the rug and forget it existence for a while.

23 November 2017

 

Tentang Keluar dari Zona Nyaman

Beberapa hari lalu saya berbincang serius tapi santai dengan seorang teman. Awalnya pembicaraan mengenai masalah pekerjaan sehari-hari lalu bergeser ketika saya menceritakan persoalan saya dan ia menawarkan ide agar saya keluar dari zona nyaman saya.

Jujur saya kaget dengan usulan itu, karena walau “keluar dari zona nyaman” adalah hal yang “biasa” agar seseorang dapat bergerak maju dari kegiatan yang “itu-itu saja” tapi saya tidak terpikir bahwa kegiatan saya yang “itu-itu saja” masuk dalam kategori zona nyaman. Namun saat saya menyampaikan keseharian dan permasalahan saya itu, saya pun sampai pada kesimpulan hal itu merupakan zona nyaman saya.

Zona nyaman yang saya maksud adalah rutinitas saya yang tidak mau mengambil risiko dan memang hanya mengerjakan hal-hal yang membuat saya senang dan nyaman namun tidak berujung pada hasil yang progresif. Padahal saat hasilnya tidak memuaskan akhirnya saya sendiri yang jadi kesal. Zona nyaman itu membuat saya lalai dan akhirnya hanya ikut saja dengan arus rutinitas tanpa mencoba membuat lompatan inovasi agar hasil tersebut sesuai dengan keinginan saya.

Jadi teman saya itu mengusulkan agar saya keluar dari zona nyaman dengan satu langkah kecil yang sangat sederhana tapi membutuhkan keberanian. Langkah sederhana itu menjadi titik awal saya untuk memasuki zona yang lain. Yah keluar dari kenyamanan pribadi memang butuh niat dan keberanian. Dalam perjalanan pulang saya terus memikirkan hal ini, bahkan sampai sekarang.

Akhirnya saya sampai pada kesimpulan bahwa saya memang harus keluar dari zona nyaman saya, tapi bukan menuju zona lain yang ditunjukkan teman saya, tapi menuju zona yang menurut saya merupakan kehendak Sang Pencipta. Terus terang zona lain yang diusulkan teman saya itu sejak awal menurut saya akan menembus batasan (tipis) yang ditetapkan Yang Maha Kuasa. Tidak perlu pemahaman Alkitabiah tingkat doktoral untuk tahu hal itu, cukup menggunakan akal sehat yang memang juga anugerah Sang Kuasa.

Pagi ini saya pun belajar mengenai Diam dan Tenanglah, Quite, Be Still. Itulah apa yang harus dilakukan oleh orang-orang yang menanti pertolongan Tuhan. Saya membayangkan Tuhan bertanya kepada saya “Why are you so afraid? Do you still have no faith?”. I have passed this condition several times and I will survive too this time, just be quite and still my soul.

1 November 2017

Tentang manusia

Manusia jelas adalah manusia yang penuh dosa dan ambisi ditambah kesombongan yang berujung pada iri hati tanpa arah. Manusia yang punya banyak keinginan ketika keinginannya itu tidak dapat terpenuhi malah akhirnya iri hati terhadap sesamanya karena dapat mecapai cita-cita bahkan lebih parah, iri hati terhadap dirinya sendiri dalam dunia impian yang diciptakan dalam pikirannya.

Maksudnya begini, saat manusia itu punya berderet keinginan dan satu keinginannya itu tercapai namun masih bertumpuk keinginan-keinginan yang menanti untuk direngkuh, ia pun fokus kepada keinginan-keinginan yang belum kesampaian itu dan mencari cara sedemikian rupa agar deretan keinginannya itu tercapai namun lupa menikmati kepuasan keinginan yang sudah dicapai. Manusia itu hidup di dalam keinginan yang belum terjadi dan tidak menikmati kenikmatan dari karyanya yang sudah digapai. Manusia itu iri hati terhadap dirinya yang seharusnya bisa mencapai keinginan yang lain dan bukan living the moment when he/she accomplished something. Manusia itu sesungguhnya tidak bersyukur. Manusia itu pun merasa terus dikejar-kejar target pencapaian tanpa tahu ujung dari pencapaian itu. Manusia itu lalu merasa bingung apa sebenarnya keinginannya tersebut?

Jadi apa yang harus ia lakukan agar tidak tersesat dalam keinginan-keinginannya yang belum tentu tercapai itu? Satu hal yang mudah namun sekaligus sulit adalah mengucap syukur. Mengucap syukur atas segala kondisi yang terjadi saat itu. Ini harus diulang-ulang terus agar tidak mudah khilaf karena ingin mendapatkan apa yang belum tentu didapatkan.

Selanjutnya adalah mengingat-ingat bahwa Sang Pencipta tidak menanyakan prestasi atau harta yang dibawa ketika nanti manusia itu bertemu dengan Penciptanya, tapi akan dimintai pertanggungjawaban mengenai sudah berapa banyak yang engkau bawa untuk mengenal Aku? Sudah berapa banyak sesamu yang mendapatkan manfaat dari tindakanmu? Sudah seberapa besar engkau menyerahkan hidupmu kepada-Ku? Hal-hal yang jauh dari pikiran manusia itu saat ini.

Keinginan dapat menyesatkan, apalagi di zaman sekarang serbuan keinginan dengan benchmark orang lain dan khayalan orang lain tak terbantahkan masuk dalam hati dan pikiran lemah manusia. Hanya dengan kembali ke benteng yang teguh yaitu Sang Pencipta dengan hati yang terus melimpah syukur sehingga merasakan puas terhadap apa yang dikerjakan itulah yang akhirnya dapat menolong manusia bisa menikmati momen saat ini, momen yang dianugerahkan Tuhan kepadanya, momen yang tak akan terulang, momen yang seharusnya dipergunakan sebesar-besarnya dan sebenar-benarnya untuk kemaslahatan manusia lain, momen bukan untuk meninggikan dirinya sendiri melainkan momen untuk menceritakan kasih Tuhan kepada dunia ini sekaligus keadilan Tuhan juga bekerja hingga saat ini.

Mintalah kepada Sang Pencipta agar manusia itu dapat punya rasa syukur yang kekal terhadap apapun yang dihadapinya, meski situasi mengecewakannya, meski keinginannya tak tercapai, meski orang lain tidak mengerti dirinya, meski hari-harinya seolah-olah menjadi layu karena harapan yang belum juga terwujud, tapi yakinlah seperti keyakinan nabi Habakuk:

3:17 Sekalipun pohon ara tidak berbunga, pohon anggur tidak berbuah, hasil pohon zaitun mengecewakan, sekalipun ladang-ladang tidak menghasilkan bahan makanan, kambing domba terhalau dari kurungan, dan tidak ada lembu sapi dalam kandang,
3:18 namun aku akan bersorak-sorak di dalam TUHAN, beria-ria di dalam Allah yang menyelamatkan aku.
3:19 ALLAH Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku. (Untuk pemimpin biduan. Dengan permainan kecapi).

Sehingga engkau berdamai dengan diri sendiri.

22 September 2017

DSCF6190

At Imagine Bali, thinking and rethinking

Tentang Sariawan

Udah lama nih gak update blog. Mungkin karena udah punya jurnal tertulis. Tapi belakangan jurnalnya juga mandek. Jadi serba salah.

Jadi pagi ini gw baca tulisan tentang Prof Dr Sawitri Supardi Sadarjoen Psi Klin, seorang psikolog klinis senior yang terpilih menjadi cendekiawan berdedikasi Kompas. Prof Sawitri mengatakan bahwa “Banyak kasus sakit fisik yang dialami seseorang merupakan manifestasi gangguan atau ketegangan emosional yang dialami si penderita. Ketegangan emosional itu disalurkan ke bagian tubuh yang paling lemah sehingga terjadilah gangguan soma (fisik). Misalnya orang yang mengalami gastritis (maag) berarti maag itu bagian terlemah dari tubuhnya, setiap orang berbeda.”

Gw langsung keinget “sakit fisik” gw dalam sebulan terakhir yaitu sariawan. Kemunculan si sariawan ini sangat gw ingat yaitu pada Kamis, 22 Juni 2017 karena ada tragedi tertentu yang antara penting dan gak penting hari itu, lumayan bikin mewek dan semoga udah selesai hari itu juga. Sebenarnya stres yang gak penting-penting amat sih.

Kalau dipikir-pikir belakangan ini gw banyak mikirin hal yang gak penting-penting amat tapi gak bergerak untuk menyelesaikan hal yang penting, kek jadi set back gitu. Bukannya move on tapi malah nyaris kembali ke masa-masa kekelaman by overthinking and do nothing, padahal banyak hal yang bisa dilakukan tanpa perlu mikir-mikir banget.

Sebenarnya ini balik lagi ke tujuan gw, mau mengejar yang sementara atau yang kekal. This obviously should be clear and bold. Persoalannya walaupun udah diniatin tapi seperti katanya Paulus dalam Roma 7:19 “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat”. Jadi gimanah? Pasrah dan nerima terombang-ambing begitu ajah?

Setelah dipikir-pikir (lagi), tujuan berganti menjadi proses dan proses pun berubah menjadi tujuan. Menuju ke tujuan melalui proses menjadi suatu perjalanan tersendiri yang membutuhkan daya tahan alias perseverance yang kemudian malah menjadi tujuan itu sendiri. Seperti sub-sub dialektika dalam pandangan para konstruktivis yang saling mempengaruhi dan bergumul untuk menunjukkan kekuatan masing-masing tapi tanpa disadari malah berujung pada suatu tujuan baru dengan proses yang tidak diperkirakan sebelumnya. Membingungkan ya?

Lalu secara acak gw membaca “Mere Christianity“-nya CS Lewis yang belom kelar juga gw baca. Dalam bab The Cardinal Virtues, Lewis menuliskan seperti ini “What you mean by a good tennis player is a man whose eye and muscles and nerves have been so trained by makin innumerable good shots that they can now be relied on. They have a certain tone or quality which is there even when he is not playing. In the same way a man who perseverences in doing just actions gets in the end a certain quality of character. Now it is that quality rather than the particular actions which we mean when we talk of a “virtue” .”

The point is people have got at least the beginnings of those qualities inside them, and there should be no possible external condition could make a ‘heaven’ for them –that is, could make them happy with the deep, strong, unshakable kind of happiness God intends for us.

Well, well, well, I must admit that I’m still far far away from the deep, strong, un-shakable kind person before God. But I wanna be the one. Sebenarnya keinginan gw cuma melakukan ini buat nyokap, melakukan itu buat bokap dan melakukan onoh buat adek gw. Tapi apakah hal itu emang yang diinginkan Yang Maha Kuasa? Dalam perjalanannya kalau gw merasa makin egois dan makin mencari aman dan makin mencari keuntungan diri sendiri, itu sudah cukup menyatakan bahwa keinginan-keinginan itu bertentangan dengan kehendak Yang Maha Kuasa karena tidak ada perseverance yang terbentuk dari melayani diri sendiri. Bukan berarti gw harus kerja tanpa istirahat atau hidup asketisme, tapi mengambil dimensi yang lain yaitu pasrah tanpa kehilangan harapan dan giat dengan tetap melekat kepada Tuhan.

Persoalannya memang manusia itu maha terbatas terhadap hal-hal yang kekal tapi maha tidak terbatas (keinginannya) terhadap hal-hal yang sementara. Inilah kenapa perlu ada waktu-waktu refleksi yang teratur dan terukur agar bisa mengecek arah setiap saat dan bukan hanya arah, melainkan cara menuju tujuannya pun harus baik-baik diperiksa agar tidak melulu melayani diri sendiri.

Semoga bukan cuman jadi tulisan

PS: ini tulisan sama gambar gak ada kaitannya sih, cuman pengen pamer makanan ajah

20170615_193229
refleksi bisa dilakukan sambil menikmati bacon beef burger
20170615_205433
bisa juga sambil makan es krim di atas brownies
20170613_201736
atau makan sirloin yang udah mateng