Tentang Perkiraan

Sesungguhnya gw udah lama ingin posting judul ini, tapi selalu tertunda dengan berbagai alasan. Tapi alasan juga yang membuat gw merasa harus langsung menuangkan pemikiran ini ke blog.

Alasannya karena kemarin malam baru melayat suami sepupu yang meninggal tiba-tiba. Yah semua kepulangan kepada Sang Khalik memang tidak ada perencanaan, dan yang bersangkutan juga ternyata sudah dirawat selama 3 minggu tapi keluarga tidak diberitahukan sehingga nyokap agak kaget. Istrinya (yang adalah sepupu gw), ibu sepupu gw dan ibunya abang ipar gw yang tinggal di kampung juga ternyata udah jagain di rumah sakit. Mereka bertiga-tiga nangis bersahut-sahutan dalam satu ruangan. Wajar sih, kan kehilangan orang dekat untuk selama-lamanya, apalagi yang bisa dilakukan selain menjerit kepada Tuhan Yang Maha Kuasa?

Tapi setiap hadir dalam suasana perpisahan yang kekal itu, gw selalu berpikir betapa super terbatasnya manusia. Manusia bisa merencanakan untuk janjian melakukan kegiatan A pada pukul sekian di suatu tempat, tapi sesungguhnya tidak ada jaminan bahwa perkiraan itu akan selalu tepat sasaran. Manusia bisa berencana akan bersekolah lalu bekerja di bidang B dengan gaji sekian dan investasi demikian, tapi sebenarnya sama sekali tidak ada kepastian bahwa target-target itu terwujud. Setinggi-tingginya ilmu manusia tapi ilmu itu mengkaji jalinan peristiwa yang sudah pernah terjadi, bukan menjabarkan secara rinci kejadian yang bakal terjadi.

Mengenai hubungan, manusia bisa memperkirakan (dan dalam hal ini sepertinya lebih tepat berharap) bahwa hubungan tersebut berjalan mulus dan akan bersama mendekati selama-lamanya, tapi lagi-lagi hubungan bisa bubar jalan di tengah jalan dengan berbagai alasan. Kecewa, sedih, kaget, gak percaya, menyesal? Yah bisa banget mengalami hal itu. Apalagi kalau kita sudah “men-tamed” seseorang, yang menurut Antoine De Saint-Exupery dalam novelnya Le Petit Prince adalah menjadikan seseorang itu sebagai satu-satunya bagi dirinya dan dirinya menjadi satu-satunya bagi orang itu. Misalnya lo men-tamed (dalam arti harafiahnya menjinakkan) seekor musang, maka meski ada 1 juta musang di dunia, tapi musang yang lo tamed adalah satu-satunya di dunia dan lo menjadi satu-satunya orang bagi si musang meski ada 6 miliar manusia di dunia.

Saat lo udah mengikatkan diri kepada orang lain, dan ternyata orang tersebut harus undur dari ikatan itu dengan berbagai alasan tentu gak ada yang bisa menghilangkan ikatan tersebut. Gw pun berpikir aah lebih baik tidak mengikatkan diri atau diikat dengan orang lain karena ikatan itu toh pasti akan terlepas entah dengan sebab apa. Tapi apakah pemikiran itu tidak egois?

Lantas gw pun teringat perikop yang dibagikan pada kebaktian Minggu pagi, yang sayangnya kurang digali secara mendalam oleh pendetanya. Dari Yesaya 55: 1-9 yang merupakan bagian dari pasal 49-55 mengenai Hamba Tuhan. Gw berpendapat perikop ini berbentuk pivot

Yes 55:1 Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!
Yes 55:2 Mengapakah kamu     belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan?
Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat.
Yes 55:3 Sendengkanlah telingamu dan datanglah kepada-Ku; dengarkanlah, maka kamu akan hidup!
Aku hendak mengikat perjanjian abadi dengan kamu, menurut kasih setia yang teguh yang Kujanjikan kepada Daud.
Yes 55:4 Sesungguhnya, Aku telah menetapkan dia menjadi saksi bagi bangsa-bangsa, menjadi seorang raja dan pemerintah bagi suku-suku bangsa;
Yes 55:5 sesungguhnya, engkau akan memanggil bangsa yang tidak kaukenal, dan bangsa yang tidak mengenal engkau akan berlari kepadamu, oleh karena TUHAN, Allahmu, dan karena Yang Mahakudus, Allah Israel, yang mengagungkan engkau.
Yes 55:6  Carilah TUHAN selama Ia berkenan ditemui; berserulah kepada-Nya selama Ia dekat!
Yes 55:7 Baiklah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangannya; baiklah ia kembali kepada TUHAN, maka Dia akan mengasihaninya, dan kepada Allah kita, sebab Ia memberi pengampunan dengan limpahnya.
Yes 55:8 Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.
Yes 55:9  Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.

Meski ayat yang sering dikutip dalam perikop ini adalah ayat 8 yang dalam bahasa Inggrisnya adalah For my thoughts are not your thoughts, neither are your ways my ways, dan memang ayatnya dalem bett, tapi menurut gw sesungguhnya Tuhan ingin menekankan peran hamba Tuhan di sini yaitu “memanggil bangsa yang tidak kaukenal, dan bangsa yang tidak mengenal engkau akan berlari kepadamu, oleh karena TUHAN, Allahmu, dan karena Yang Mahakudus, Allah Israel, yang mengagungkan engkau” (ayat 5).

Maka, meski begitu payahnya deviasi antara perkiraan awal dengan kenyataan di lapangan, tugas untuk menyatakan Tuhan kepada bangsa-bangsa yang belum mengenal Dia harus tetap dikerjakan, hal ini gak bisa ditawar-tawar! Apalagi di ayat 11 disebutkan: demikianlah firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku: ia tidak akan kembali kepada-Ku dengan sia-sia, tetapi ia akan melaksanakan apa yang Kukehendaki, dan akan berhasil dalam apa yang Kusuruhkan kepadanya.

Lantas bagaimana mekanisme memulihkan diri saat rancangan kita tidak terjadi dan jalan kita bukan menjadi jalur yang dilalui karena Tuhan berkehendak lain? Tuhan bilang ke hamba Tuhan bahwa si hamba akan berangkat dengan sukacita dan akan dihantarkann dengan damai dan bukan itu saja, gunung-gunung serta bukti-bukti akan bergembira dan bersorak-sorai dan segala pohon di padang akan bertepuk tangan (ayat 12). Intinya jalan Tuhan akan membawa kepada sukacita kekal.

Persoalannya, memang mata manusia sulit untuk melihat yang kekal ini dan sering memilih hal yang tidak kekal sama sekali, tapi lagi-lagi seperti yang disampaikan oleh Antoine De Saint-Exupery, saat si musang memberikan wejangan kepada sang Little Prince: One sees clearly only with the heart. Anything essential is invisible to the eyes. Manusia harus melihat dengan hati untuk bisa dengan jelas melihat hal yang esensial. Bagaimana melihat dengan hati? Ya dekat dengan sang Pencipta hati dong aah. Dooh jawaban filosofis.

Dah kerja, kerja!

the-little-prince-quote

pic from quotesgram.com

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s