Suatu Cerita Tentang Pernikahan (2)

Berhubung gw udah pernah nge-blog tentang nikahan Oci, gak afdol juga kalau gak nge-blog tentang nikahan Dea sebagai anggota 3D (lama-lama gw bisa jadi  fotografer sekaligus blogger pernikahan nih!).

Entah kenapa, gw gak terlalu sentimentil saat si Dea dan bang Jeperistiwa Sebayang a.k.a bang Jeper menikah seperti sentimentalitas (ada kata ini gak ya?) saat Oci nikah sama Abby 10 Oktober 2015 lalu. Mungkin perasaan gw berbanding terbalik dengan perasaan Indro Warkop saat dua sahabatnya meninggal. Doi udah (agak) persiapan saat Kasino meninggal karena Kasino sebelumnya sakit sekitar setahun kemudian meninggal, sedangkan kematian Dono lebih tiba-tiba dan bikin kaget, meski sama-sama menderita sakit. Hmmmm, contoh yang aneh.

Penyebabnya bisa jadi dua hal: (1) Waktu pacaran Oci-Abby yang lebih lama dibanding Dea-Jepri, (2) Pengetahuan gw yang lebih banyak tentang hubungan Dea-Jepri dibanding Oci-Abby –yang bisa disebabkan karena waktu pacaran pasangan pertama lebih singkat.

Jadi overall, saat menghadiri kebaktian di GBKP Lenteng Agung-Depok pada 22 Januari 2016 maupun merasakan hiruk-pikuk pesta karo di kompleks DITZI-AD pada 23 Januari 2016, gw merasa santai kayak di pantai. Tapi tentu perasaan gw tidak merepresentasikan relasi perasaan pasangan tersebut sebenarnya, karena memang tidak ada korelasi perasaan gw dengan perasangan those love-birds (apah sih ini?).

Baiklah dimulai dengan waktu kenalan dengan Dea, seingat gw sih waktu doi jadi sie Persekutuan Jumat di PO FISIP UI pada sekitar 2007, dan gw jadi sie KK. Sama-sama jadi PKK baru dengan beban kuliah yang tidak sedikit, dan ditambah jackpot tugas RPA kayaknya mulai mendekatkan relasi kami. Tapi gw dan Dea agak berbeda dalam kepribadian, Dea jelas sanguin yang ternyata melankolis, alias gampang terharu, sedangkan gw cenderung kolerik plegma yang macem-macemnya dipikirin dan harus runut.

Pertemanan erat dilanjutkan saat menjadi Tim Inti (TI) PO FISIP bersama dengan Oci. Btw, kami berdua awalnya sama-sama menjawab iya sebagai koordinator PO, tapi akhirnya setelah memainkan games “cang-kacang panjang yang panjang jadi…” gw lebih suka jadi Yohanes dibanding Petrus, dan Dea memang cocok sebagai Petrus. Kerja bareng Dea dalam TI itu pasti gak bosen, karena dia punya banyak cerita, baik yang perlu diceritakan maupun enggak, hahaha. Tapi satu yang gw tangkep dari ceritanya adalah Dea punya niat yang tulus dalam mengerjakan pelayanan tersebut.

Waktu berlalu dan berlalu, entah kenapa akhirnya gw ikutan jadi wartawan seperti Dea yang udah di Sinar Harapan duluan. Gw pun memilih KPK sebagai pos di desk hukum karena ada Dea yang gw harapkan dapat membimbing gw di KPK, walau ternyata tidak…hahahah. Karena Dea mengerjakan berita perspektif koran yang lebih dulu mengumpulkan bahan, dan korannya adalah koran sore yang membuat doi jam 2 atau jam 3 siang udah balik ke kantor, sedangkan gw masih ngedekem di KPK, but well that’s what so called life. Selain mempengaruhi jenis pekerjaan dan lokasi pekerjaan, Dea juga menjadi “faktor kompetitor” sehingga gw lanjut S2 dengan mazhab “kalau Dea bisa sekolah sambil kerja, kenapa gw enggak?” (anaknya gak mau kalah banget emang).

Tapi tentu kami jadi banyak cerita mengenai banyak hal (di luar KPK), secara khusus mengenai “laki-laki, persebaran dan struktur pemikirannya” (bisa jadi judul disertasi tuh). Ada beberapa laki-laki yang datang dan pergi dan bisa jadi diperhitungkan tapi ternyata tidak perlu masuk hitungan, hahaha. Tapi gw super yakin laki-laki yang mendapatkan Dea adalah laki-laki yang suppper beruntung karena she is a full package: brain, beauty, (fun) behavior and bravery. Doi yang paling lantang nanya-nanya sama saksi dan tersangka dan pimpinan sedangkan gw mah memperhatikan keadaan ajah. Well again, she has a profound quality as a lady.

Mengenai hubungannya dengan Jeperistiwa Sebayang yang tadinya doi anggap 4l4y. Gw yakin ini pria yang paling diseriusin si Dea (ya iyalah udah nikah) dan bukan hanya sentimentil di permukaan. Dan yang paling utama bukan pria yang tiba-tiba intens menghubungi, ngajak jalan eh tiba-tiba juga ilang dan malah jadian sama wanita lain (semacam sinetron, tapi terjadi juga di dunia nyata). Situasi dimana lo bisa pernah dekat sedemikian rupa sama seseorang dan bahkan berpikir akan melakukan apa saja untuk bisa bersama orang tersebut tapi bisa saja dalam satu kedipan mata lo bahkan tidak menemukan alasan untuk berada dekat orang tersebut. Jadi selamat kepada bang Jepri yang bukan cuma menghembuskan angan-angan tapi juga memberikan kenyataan didukung ketegasan kepada Dea. Tidak kalah penting kualitas kesabaran bang Jepri terhadap Dea dan kesepadanan pemahaman kerohanian bisa jadi kunci Dea bersedia menerima pinangan si abang meski mereka hanya melakukan perkenalan singkat.

So this is my final statement. Finding your true love is one thing, nurturing the love is another thing, but please don’t take it for granted. Nurturing is kind of a full-hearted, utmost-effort, true-tenacity works you’ve ever done. Never turn your eye back and just focus on the thing in future, that’s how you complete the ultimate task. The wedding is a new path, and the path should be shared one another. Have courage and be kind, the other me!

Gw dalam balutan baju kurung beneran, bang Jepri dan Dea dalam balutan baju karo, Oci dalam balutan dress modifikasi baju kurung dan kain
Gw dalam balutan baju kurung beneran, bang Jepri dan Dea dalam balutan baju karo, Oci dalam balutan dress modifikasi baju kurung dan kain
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s