Tentang Bersyukur

Secara jujur, gw termasuk orang yang sulit bersyukur. Penyebabnya bisa macam-macam. Bisa karena gw merasa punya kapasitas untuk mengerjakan tugas tertentu sampai selesai, karena tugas yang terselesaikan itu selanjutnya berganti dengan tugas yang lain, karena gw tidak fokus kepada hal detail, karena gw suka membandingkan pencapaian dengan orang lain, karena gw tidak menyisihkan waktu untuk bersyukur, karena gw membuat banyak target dan berbagai hal lainnya.

Dampak dari kurang bersyukur itu sesungguhnya bahaya karena lo jadi merasa diri lo doang yang punya dunia ini dan gak menyisihkan nafas sebagai jeda dari satu kegiatan ke kegiatan yang lain. Lo juga jadi gak merasa bahagia dengan apa yang lo dapet karena merasa bahwa hasil tersebut memang sudah sepantasnya (meski bahagia juga bukan jadi tujuan utama manusia). Tapi seharusnya bersyukur bisa jadi secercah cahaya yang dengan perlahan dihirup dan dihembuskan sehingga menghasilkan senyum tulus, terlepas dari hasil pekerjaan itu.

Tipisnya rasa bersyukur itu juga terjadi saat gw ulang tahun 11 Desember 2015 ini. Pada usia udah tingkat kritis (hahaha) Tuhan membawa gw ke Busan, melalui Narita, dalam perjalanan di pesawat yang lama tapi acara yang super singkat untuk merasakan hawa dingin 4 derajat Celcius. Kalau dipikir-pikir, harusnya gw bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan menjawab doa yaitu “Petualangan tanpa batas dalam karunia-Nya”. Tapi entah kenapa gw kurang atau bisa dibilang tidak bersyukur.

Pelajaran apa yang gw dapat sepanjang di Korea dan Jepang (meski di bandaranya doang)? Ada banyak hal yang gw gak tau dan harus dipelajari, dan hal itu membuat gw rendah hati. Ada banyak juga keterbatasan dan kecerobohan gw sehingga harusnya gw lebih mengandalkan Tuhan yang Maha Kuasa. Dan sekali lagi, uang bukan jawaban dari semuanya.

Ulang tahun kali ini dalam kondisi jauh dari orang-orang terdekat dan hanya dijabat tangan oleh mama, papa dan ivan membuat gw berpikir bahwa sekali lagi keluarga adalah satu-satunya tempat di dunia ini that I can lean on, of course God Almighty is above anything else. Bila Tuhan berkenan gw pun bisa punya keluarga seperti itu juga di tahun selanjutnya.

Ulang tahun kali ini juga mengajarkan mengenai pentingnya pembaharuan akal budi karena itulah yang akhirnya menentukan langkah hidup. Pendidikan menjadi kunci penting, baik pendidikan formal, informal maupun pendidikan dari pengalaman hidup. Dengan akal budi yang sudah diperbaharui dalam Tuhan, manusia dapat membedakan mana kehendak Allah, mana yang baik yang berkenan kepada Allah, yang sempurna sehingga dapat mempersembahkan tubuh sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, yang berkenan kepada Allah (Roma 12:1-2). Ayat klasik tapi penerapannya selalu dibutuhkan.

Ulang tahun kali ini memperlihatkan berkat kasih Allah baik dalam keadaan susah maupun senang dan banyak hal di sekeliling kita pun bukan hasil jerih payah manusia tapi semata-mata penyediaan Allah. Karena Allah bahkan bisa menjadikan orang-orang yang tampak dibuang sebagai pelayan-pelayanNya. Hormat dan Kemuliaan hanya bagi Allah!

Yang jelas ulang tahun kali ini memperlihatkan kepada gw untuk terus-terusan sadar diri agar bisa terus bersyukur dan percaya kepada Tuhan Empunya langit dan bumi, apalagi yang diperlukan di dunia ini selain menjadi orang yang berkenan kepadaNya?

Di depan keramaian Busan
Di depan keramaian Busan
Lope di depan Busan-Indonesia Center
Lope di depan Busan-Indonesia Center
Bersama ibu-ibu PKK penari korea
Bersama ibu-ibu PKK penari korea
Malam-malam di pantai 4 derajat celcius
Malam-malam di pantai 4 derajat celcius
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s