Tentang “Nothing To Lose”

Apa yang membuat seseorang gak bisa tidur tenang? Padahal tidur nyenyak itu adalah syarat utama supaya badan segar dan bugar dalam bekerja keesokan hari.

Kemungkinan terbesar adalah karena dalam hati dan pikiran yang seharusnya beristirahat itu masih mempertimbangkan sesuatu, atau seseorang, yang urusannya belum selesai. Lucunya, dari sejibun peristiwa dan tugas manusia, yang mungkin juga gak sesuai dengan harapan atau deadline, ada satu atau dua hal yang nyangkut di hati dan pikiran entah apa sebabnya.

Si sesuatu atau seseorang yang tanpa izin nyangkut itu bikin orang jadi sulit memejamkan mata atau bahkan setelah membuka mata tetap kepikiran hal yang sama tanpa tahu bagaimana mencari jalan keluar agar sesuatu atau seseorang itu memberikan sedikit waktu untuk orang itu.

Tapi coba pikirankan begini, UNTUNGNYA sesuatu atau seseorang itu datang pada saat ini, bukan pada saat-saat lain yang tampaknya orang itu belum siap atau punya hal lain yang perlu dipikirkan dan dikerjakan. UNTUNGNYA sesuatu atau seseorang itu hadir ketika orang tersebut setidaknya sudah punya pengalaman dan pemahaman yang lebih banyak dibanding masa-masa sebelumnya, dan orang itu pun sudah kenal atau setidaknya punya bekal mengenai sesuatu atau seseorang itu. UNTUNGNYA, tidak semua orang dititipi pemikiran mengenai sesuatu dan seseorang sedemikian serius seperti orang itu, jadi orang itu akan punya tambahan bekal dan pengalaman di masa mendatang.

Jadi gimana? Menurut saya, orang itu sebaiknya pakai prinsip “Nothing to Lose” yang lebih kurang berarti apapun yang terjadi lakukan ajah karena gak ada ruginya. Dampak dari prinsip ini adalah orang tersebut berpikir dan bertindak lepas tanpa terlalu mempersoalkan dampak yang akan terjadi. Bukan berarti tidak punya pertimbangan, namun lebih ke arah bersukacita atas apapun yang terjadi dan tetap punya pengharapan bahwa kondisi dapat menjadi lebih baik sehingga melanjutkan kerja keras meski tetap menyerahkan hasil kepada Sang Pencipta.

Ya begitulah, setiap saya punya masalah, sepertinya tetap akan ditutup dengan doksologi (perkataan  puji-pujian), karena seperti pemazmur yang memang selalu berpengharapan dan melihat sisi terang dari suatu masalah, saya juga tidak melihat ada manfaatnya bila terfokus pada kekacauan dunia dan isinya. Besok belum akan kiamat, dan kalaupun kiamat terjadi besok, saya yakin hal itu terjadi bukan karena saya gak bisa tidur.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s