Apa yang lo lakukan kalau lagi galaw?

Apa yang lo lakukan kalau lagi galaw?

Jawabannya bisa banyak, bisa ajah tidur, ngemil, jalan-jalan ke tempat baru, ngopi-ngopi, curhat ke temen, nulis blog, diem gak bisa ngapa-ngapain, main game, kerja, nulis diary, whatsapp-an sama orang yang lama gak kontak, dengerin musik, jalan kaki gak tentu arah, main ke kafe, jogging, merem (eh ini udah ya pilihan pertama), dan bisa juga berdoa.

Sebenarnya dari pilihan-pilihan itu gak ada yang bener-bener mengatasi si galaw karena gak ada yang bener-bener menyentuh penyebab galaw. Ibaratnya semacam lo tau kemiskinan merajalela di Indonesia tercinta tapi malah nambahin alokasi APBN untuk penanman modal BUMN yang bukan suatu entitas miskin, gak nyambung banget masalah sama pencarian solusinya (OK, contohnya mungkin terlalu elitis).

Well ada juga sih di antara pilihan-pilihan tersebut yang “menyentuh” akar masalah sehingga bisa dicari solusi terbaik demi mengatasi kegalawan misalnya curhat ke temen karena bisa tuker pikiran. Tapi syaratnya harus curhat ke temen yang benar bisa diajak tuker pikiran, bukan yang mau menginjeksikan pikirannya ke lo. Nulis blog atau diary juga bisa sih karena berkomunikasi dengan diri sendiri, bisa meluruskan pikiran yang melingker-lingker, agak mirip dengan semedi, tapi bedanya dilakukan secara tertulis, jadi bisa di-review. Tapi yang paling pas sesungguhnya adalah berdoa (memasuki waktu Indonesia bagian religius), karena lo bisa berkomunikasi sekaligus tuker pikiran sama Sang Pencipta, pihak yang paling mengerti kita. Cuman memang ada hal yang harus dipenuhi, lo dan Sang Khalik harus satu hati dulu, kalau masih memaksakan kehendak sih jangan pilih doa jadi solusi.

Dari tiga pilihan yang tampaknya solutif itu, sebenarnya si solusi juga gak langsung datang, atau pun kalau bener dapat solusinya, perbaikan keadaan akibat masalah butuh waktu, butuh tenaga, butuh proses, butuh energi, butuh determinasi. Gak bisa cuma ha, ha, ha, he, he, he, hi, hi, hi, hi doang lalu kondisi membaik. Ibaratnya lo mau meningkatkan kualitas hidup orang miskin dengan cara meningkatkan alokasi anggaran untuk BPJS atau asuransi sosial semacamnya, tetep ajah butuh proses yang super panjang mulai dari mencairkan anggaran, membuat mekanisme ke rakyat sampai akhirnya rakyat bisa merasakan manfaat si BPJS dkk (OK, kali ini perumpamaannya juga terlalu ekstrim).

Tapi kalau dipikir-pikir, dari empat paragraf di atas, setidaknya orang galaw masih punya pilihan-pilihan untuk memperbaiki keadaan. Bayangkan kalau gak punya pilihan lagi? Atau kepikirannya malah hal-hal ekstrim macam program-program buser di TV semacam gantung diri atau masukin sianida ke minuman? Situasi malah tambah runyam.

Dan dari upaya untuk mencari solusi sampai menemukan solusi kegalaw-an, lo akan mendapatkan blessing in disguise yaitu manfaat dari galaw! Ada gitu manfaat galaw? Yah kalau dipikir-pikir galaw emang lebih banyak bikin kacaw sih karena bikin suasana hati kalang kabut, dan berhubung hati adalah pusat dari manusia maka si manusia akan mengalami kekacawan saat berpikir, berkata-kata, bertindak, berelasi, bekerja dan segala hal yang mempergunakan syaraf sensorik dan motorik. Semakin galaw dan berlarut-larut, si hati makin berkabut, macam kabut asap yang udah 3 bulan di Kalimantan dan Sumatera. Dan semakin sulit mensinkronkan gerak hati, pikiran dan tubuh.

OK, kembali lagi ke manfaat galaw, menurut gw manfaatnya adalah sebagai berikut:
1. Lo sadar lo adalah manusia biasa, bukan robot, superstar apalagi superman dari planet lain. Lo masih rakyat jelata yang butuh bantuan orang lain sesama rakyat jelata maupun Sang Penguasa. Manusia kan gak bisa hidup sendiri man!
2. Masalah biasanya mendewasakan lo, kan ada tuh kalimat terkenal: pemimpin besar biasa lahir dari situasi krisis. Kalau belom ada krisis lo akhirnya gak belajar bagaimana mengatasi si krisis itu. Begitu lo sugses mengatasi si krisis, hati lo yang tadinya kembang kempis bakal jadi elastis untuk menerima batu loncatan selanjutnya yaitu biar jadi pribadi yang lebih hebat
3. Galaw gak bisa enggak, kudu, harus, mesti, untuk dihadapi, bukan dihindari. Jadi lo pertama harus mengakui kalau lo galaw dan selanjutnya memutuskan pilihan yang tepat dari opsi-opsi di atas, mana yang menunjukkan lo menghadapi kegalawan atau malah memindahkan kegalawan ke bentuk lain. Lagian level kegalawan dari waktu ke waktu biasanya meningkat, misalnya lo pernah galaw karena masalah A, setelah lo bisa menghadapi masalah A dengan mulus, maka kegalawan selanjutnya akan bertambah jadi A + B, kelar di level A + B, bisa jadi galawnya tereskalasi jadi A + B + C, tapi inget inti dari galaw ya di poin 1-3 inih.

Jadi gimana kalau lo masih galaw? Ya santai ajah, tarik napas dan pilih opsi mana yang menghasilkan solusi terbaik agar bisa keluar dari kegalawan atau mentransformasikan kegalawan lo jadi bentuk yang lebih kece dan selanjutnya bersiap menghadapi tantangan galaw selanjutnya, kalau udah lulus tahapan kegalawan yang ini. Karena kalau lo masih terus galaw karena masalah yang sama, mungkin ajah lo masih di tahap yang sama.

Sekian dan terima kasih.

OK, gw ngaku, itu semua pilihan itu adalah hal-hal yang gw lakukan saat galaw. Seperti sekarang ini

20151031_203422
Happiness is a cup of coffee and a good book
Caramel Machiato (seperti biasa) dan roti kukus gula ples mentega
Caramel Machiato (seperti biasa) dan roti kukus gula ples mentega
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s