Suatu Cerita tentang Pernikahan

Sahabat saya, Dorothy Marunduri menikah dengan teman saya Febriant Abby Marcel pada Sabtu, 10 Oktober 2015. Menjelang hari H, entah mengapa saya tidak berpikir untuk melakukan” bride shower” seperti yang biasa dilakukan orang-orang di kota metropolitan menjelang sahabatnya menikah. Saya justru sibuk dengan kesibukan saya sendiri yang sebenarnya tidak sibuk-sibuk amat. Sungguh benar-benar tidak teringat. Saya mohon maaf.

Saya pertama tahu Dorothy Marunduri alias Oci saat ikut les intensif di BTA SMA 8, karena ada satu pengajar geografi yang dengan teratur mempromosikan ada seorang anak IPS yang pengen banget masuk jurusan Matematika sehingga ambil intensif IPC bernama Dorothy. Tampaknya si Dorothy ini patut amat diteladani, padahal dalam hati saya, biasa ajah keles, gak ada hebat-hebatnya juga (saya memang dari kecil anaknya minim apresiasi kepada orang lain, hahaha).

Ternyata Dorothy yang masyur di BTA 8 itu malah masuk FISIP UI jurusan Fiskal –yang notabenenya adalah jurusan IPS. Dan saya yang adalah anak IPA juga ternyata masuk FISIP UI jurusan HI yang artinya menyebrang dari anak IPA jadi IPS. Tahun pertama kuliah, saya hanya tahu saja si Dorothy ini dipanggil Oci, suka basket, tampang lumayan kece, suka ikut Persekutuan Jumat, ya begitu ajah.

Tahun kedua, saya melayani di PO FISIP UI sebagai sie buletin dan literatur, si Oci masih jadi rakyat FISIP yang rajin PJ dan doa siang, anak baik-baik lah, udah tau gitu ajah. Tahun ketiga, saya jadi sie Kelompok Kecil dan Oci jadi sie PJ bersama dengan Diamanty Meiliana alias Dea. Saya sih menikmati pelayanan Oci yang karena sepertinya punya banyak kapasitas karena mendapat anugerah banyak Anak Kelompok Kecil yaitu 3 orang anak Fiskal 2007, 4 orang anak Humas 2007 dan pada tahun keempat bahkan bertambah dengan 5 atau 6 anak Pajak 2008 dan beberapa orang anak Unindra. She is very good in maintaining relations with her friends and acquaintances.

Pada tahun keempat lah saya menjadi sangat dekat dengan Oci, dan juga Dea. Menjadi Tim Inti PO FISIP UI dan menyatakan diri sebagai 3D (Dea, Desca, Dorothy) membuat kami tampak sepaket, kemana-mana bertiga. Banyak waktu yang kami habiskan bersama, mulai dari rapat, pembinaan, ketemu orang, main sepeda keliling UI dimana Oci selalu menjadi yang terdepan, rapat lagi dan lain-lain. Berbagi hidup, berbagi cita-cita, berbagi cerita juga termasuk urusan cintah. Dea yang selalu penasaran mengenai hubungan Oci dan Abby tidak pernah lupa bertanya mengenai kelanjutan hubungan mereka setelah selesai rapat. Kalau saya sih seneng-seneng aja mendengarnya, karena tidak terlalu dikejar rasa ingin tahu mengenai hubungan pribadi orang (sampai sekarang juga begitu sih, huhuh).

Dalam rapat Oci sebenarnya menjadi orang yang paling penting kalau saya dan Dea berbeda pendapat karena pendapat Ocilah –yang saat itu banyak menjadi pendengar yang akhirnya menentukan keputusan. We are so lucky to have her in our team as the catalisator.

Tapi sejauh yang saya tahu baik Oci maupun Abby sama-sama “committed” terhadap apa yang mereka sebut sebagai hubungan. Meski si Oci super plegma dan punya banyak fans, si Abby dengan penuh kesabaran menjalin relasi dengan si Oci, kayaknya gak ada putus-nyambung meski mereka sempat berjauhan karena Abby menjalani tugas di Kalimantan sebagai pekerja di Wahana Visi Indonesia maupun setelah keluar dari WVI juga menjalankan tugas “corporate social responsibilities” di Luwuk di suatu perusahaan pertambangan. Oci tetap setia di Jakarta tercintah.

Hingga setelah menjadi alumni selama 5 tahun saya bersyukur persahabatan saya-Dea-Oci tetap dijaga Tuhan karena meski intensitas pertemuan berkurang tapi kualitas hubungan yang mendewasakan tetap terpelihara. Saya dan Dea memang tidak masuk menjadi panitia pernikahan Oci dan Abby, apalagi jadi “bridesmaid” yang secara terhormat didapatkan sahabatnya oci sejak es-em-pe, Monita Idol. Tapi doa dan dukungan saya yang baru mengenal Oci selama lebih kurang 10 tahun selalu teriring. Keteladanannya untuk setia dalam pelayanan di gereja, pemuridan di kampus, berelasi dengan satu orang yang teruji bahkan melangkah ke tahap baru adalah sebagian kecil dari cerita nyata yang sangat pantas untuk diingat dan dilanjutkan.

Akhirnya, selamat menempuh hidup baru Oci dan Abby.
The wedding is absolutely well wrapped yet wee tears fall because of unconfined happiness and gratefulness. The new life is peeking behind the door. Even your journey is upside-down, but what is an adventure without briers and thorns? Like Cinderella’s mom said: have courage and be kind, and I would add one more: love each other because love covers over a multitude of sins.

XOXO

Oci dan Abby, yang berbahagia, diapit saya dan Dea yang juga bahagia
Oci dan Abby, yang berbahagia, diapit saya dan Dea yang juga bahagia
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s