Kamp Nasional Alumni 2015 – Bagaimana Kita Ke Mana?

Saya masih ingat perkataan ini: kalau ketemu kawan saat sudah alumni, pertanyaan yang diajukan bukan lagi bagaimana saat teduhnya? Melainkan kerja di mana? Bagian apa? Sudah cukup tabunganmu? Ditunggu undangannya ya (kalau belum menikah). Pertanyaan-pertanyaan “standar” yang ditanyakan kepada alumni kresten maupun non-kresten. Jadi apa bedanya kresten dan non-kresten?

Baru-baru ini Saya ikut Kamnp Nasional Alumni di Salib Putih, Salatiga, Jawa tengah pada 24-27 September 2015. Saya datang ke ret-reat tersebut sebenarnya dengan membawa sejumlah pertanyaan mendasar yaitu apakah saya masih melanjutkan profesi saya sebagai jurnalis atau berpindah bidang? Bila tetap sebagai jurnalis, haruskan saya berganti perusahaan? Bila saya tidak lagi menjadi jurnalis, profesi apa yang cukup berdampak dalam konteks Indonesia tapi juga dapat memenuhi keinginan saya untuk terus belajar dan punya waktu kerja yang fleksibel?

Namun sebelum kamp, saya diminta oleh kak Iin (salah satu panitia kamp) untuk mengedit sejumlah kesaksian alumni, ditambah anugerah pelayanan untuk menyusun buku “Menghidupi Visi Allah – Kisah Perjalanan 31 Tahun Pelayanan Tadius Gunadi bersama Perkantas”. Dari membaca banyak kesaksian alumni, ternyata modal untuk tetap berkarya di satu bidang tertentu secara konsisten adalah hubungan pribadi dengan Allah yang intensif. Gak ada yang lain. Lucu juga, jauh-jauh cari resep untuk bisa tetap setia, ternyata jawabannya kembali kepada pelajaran dasar.

Tentu ada banyak hal lain yang saya dapatkan dari kamp tersebut. Dari Firman dan kesaksian sejumlah pembicara saya mendapatkan sejumlah prinsip yang baik misalnya bagaimana melalui pekerjaan saya, orang-orang di sekitar mampu melihat Allah yang saya sembah; lebih memilih kekudusan dibanding kedudukan; “life is battle ground not a playground”; tidak ada hasil yang instan; memikirkan peran strategis pekerjaan secara jangka panjang; punya keberanian dalam bertindak secara benar, bukan play save; tidak takut berkesperimen dan terus mencari metode baru; mengorbankan uang bukan keluarga; memberikan yang paling berharga untuk bangsa. Kalau dipikir-pikir, ini sebenarnya semacam prinsip-prinsip yang diberikan pembicara saat dulu di kampus tapi konteks bagaimana PKK bersikap kepada AKK dan pelayanan, nah sekarang konteksnya ditingkatkan yaitu pada level bangsa dan negara.

Sedangkan teladan dari teman-teman yang baru ketemu tidak kalah kaya, banyak kawan yang memang sedang berjuang untuk bekerja dengan tetap menatap kepada Sang Pencipta, entah pekerjaan itu memang titik pukul vokasinya atau “baru” stepping stone untuk ke titik pukul vokasi. Well, semuanya berada dalam kuasa Tuhan yang Maha Esa. Entah pekerjaan di kota atau di desa, pekerjaan yang super banyak peminatnya seperti guru atau pekerjaan yang antah berantah seperti saya yang jadi wartawan “satu-satunya” di kamp tersebut.

Menurut saya, persoalan dari tiap pekerjaan pun sebenarnya bisa dibagi dua kategori: masalah dari luar yaitu pertentangan nilai-nilai yang kita anut dengan nilai-nilai di lingkungan pekerjaan dan masalah dari dalam: nilai-nilai kebenaran yang kita anut mulai luntur karena kelembaman untuk belajar. Kunci dua persoalan itu ya balik lagi ke konsitensi untuk menatap kepada Sang Pencipta. Lucu memang, jauh-jauh dan jawabannya kembali kepada hal yang sama. Lebih lucu lagi kita tidak tahu kapan dan dengan siapa kita akan menemukan persoalan dan jawaban itu, cuma sudah disediakan jawaban “bagaimana” oleh Tuhan Maha Kuasa.

Apa kesimpulan untuk saya dari kamp ini? Saya bersyukur, tentu karena dianugerahkan keselamatan, kesempatan belajar firman, persekutuan dan akhirnya pelayanan oleh Yang Kuasa. Setelah bersyukur tentu saya harus meningkatkan kapasitas diri baik secara rohani maupun kognitif dan emosi. Terus bertanya dan tidak cepat puas, namun bukan berarti jadi angkuh dan mau menang sendiri. Langkah-langkah praktisnya, saya mau belajar dan belajar untuk menulis bahasa Inggris dan memulai kembali PA pribadi yang udah luama banget hiatus. Kitab Yunus kayaknya keren untuk di-PA-in setiap dua minggu.

Lalu mau apa lagi? Tentu menjaga relasi. Ada banyak kenalan baru yang saya temui saat kamp, dan saya tidak boleh malas memanfaatkan hari Minggu untuk menyampaikan selamat hari Minggu. Tujuannya bukan untuk mendapat proyek demi mengisi pundi-pundi, tapi mencari orang-orang yang bisa sepikiran sehati dalam membangun negeri.

Mengutip email yang dikirimkan dropbox ke saya untuk iklan upgrade produknya, saya ubah sesuai konteks saya:

“I have to upgrade my self-box so that I get everything God’s love about this world plus more space and extra control for keeping all my stuff safe”.

All at all, fix your eyes in Christ in order to finish the race well at all point.

Foto klasik kalau kamp
Foto klasik kalau kamp
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s