Tentang Rasa

Malam ini malam yang lebih panjang dibanding malam-malam sebelumnya.

Mungkin karena perut sebelah kanan masih nyeri dan sesungguhnya saya terbangun karena keinginan untuk mendapat asupan biskuit, sayang saya gak menyimpan biskuit secuil pun di rumah ini.

Untunglah masih ada sisa dua saset cokelat yang bisa diseduh jadi minuman hangat penghibur dari nyeri dan sergapan dingin udara dini hari yang bercampur dengan sisa tetesan hujan.

Lalu saat melihat layar handphone muncul chat dari teman mengenai postingan terbaru di blog-nya. Gak ada kerjaan, saya pun semangat meng-klik si alamat dan voila, muncullah postingan singkat yang memdeskripsikan kegalauan soal pekerjaan. Yah namanya juga manusia, pasti ada masa galaunya entah karena apa.

Tapi postingan-postingan lain sekitar 70 persen soal kegalauan dengan pasangan. Sayangnya galau bukan karena pasangan sendiri tapi karena menyayangi pasangan orang lain. Syukurnya (atau apesnya) si orang yang disayang dan sudah punya pasangan resmi itu juga sayang sama dia. Makin galau. Rindu tapi tidak bisa bersatu. Sendu tapi bertahan untuk tidak bersikap tidak menentu.

Aahh rasa sayang.

Sejumlah postingan tersebut mengingatkan saya kepada curhatan seorang teman lain yang rutin cerita ke saya selama sekitar 6 bulan ini. Persoalannya sama, nyaris mirip bahkan dengan dilema teman saya  pertama, yaitu rasa sayang kepada orang yang salah pada waktu yang salah. Perbedaannya teman saya ini yang sudah mengikat janji suci tapi tiba-tiba sayang ke orang yang juga sudah punya pasangan. Sekali lagi syukurnya (atau apesnya) si orang yang disayang pun merespon positif. Mau bagaimana lagi kalau rasa sudah bekerja? Logika pun mengalah untuk tidak berjaga.

Tapi teman saya yang kedua ini agak waras dibanding dengan teman saya yang satu lagi, mungkin karena posisinya yang ditukar dengan teman saya yang pertama. Teman saya yang kedua pun berupaya berbagai cara untuk keluar dari jeratan cinta tanpa tata krama ini, tugas saya adalah meyakinkan dia kalau dunia ini bukan hanya milik berdua, tapi juga habitat manusia untuk menjadi pribadi yang lebih baik, kalau ternyata sang rasa mengubah menjadi manusia yang gampang putus asa, untuk apa rasa itu tetap ada?

Tentu mudah untuk mengucapkannya, tapi sulit untuk dikerjakan. Masalahnya mungkin tidak bisa dituangkan dalam kata-kata, terlampau menyederhanakan rasa itu sendiri. Namun intinya energi kedua orang yang jatuh cinta pada kondisi yang tidak mendukung bisa jadi lebih besar dibanding saat suasana kondusif. Mungkin karena pasangan itu sadar bahwa rasa tersebut tak boleh ada sehingga berjuang sedemikian rupa untuk menggenggamnya hingga sang rasa hilang, hancur, tersembunyi tak bersisa. Sayangnya semakin kuat untuk menggenggam, semakin lengket si rasa meresap dalam genggaman, akibatnya dibuang sayang, tak dibuang asa tenggelam.

Namun saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk bertemu dengan mereka berdua. Manusia-masusia yang penuh dengan rasa meski tidak pada tempatnya. Menjadi pembelajaran bagi saya, manusia yang minim rasa ini, untuk mengetahui bahwa pada akhirnya hanya Sang Kuasa yang punya otoritas menilai rasa. Dan kebergantungan pada Sang Khalik juga yang menolong agar rasa itu bisa memberikan pertumbuhan dan mencerahkan, bukan sebaliknya malah mengkerdilkan dan memupuk penyesalan.

Bila saya berefleksi ke diri saya sendiri, saya pun harus selalu koreksi diri. Rasa yang ada sudah kelewatan atau bisa membangun impian? Saya pikir rasa yang paling utama tetap rasa sayang ibu kepada anak-anaknya seperti yang dilakukan mama pada dini hari ini yang terbangun untuk membuatkan bubur kepada saya yang sudah dewasa. Terus terang saya malu karena masih membuat susah orang tua. Tapi bagaimana lagi? Orang tua pun saya yakin masih menganggap saya anaknya yang kecil dan membutuhkan limpahan perhatian terutama saat-saat kesakitan.

Sementara rasa kepada pasangan, entah rasa itu ditujukan kepada orang yang tepat pada saat yang tepat atau tidak, saya tidak kuasa untuk menghakiminya. Siapakah saya yang berhak menilai validitas sang rasa karena rasa pun anugerah Sang Maha Kuasa! Sehingga apa yang bisa saya lakukan saat memiliki rasa adalah dengan menyisakan sisa ruang rasa menjadi bagian penilaian kepada Sang Empunya rasa, pantaskan rasa itu saya miliki dan saya ekspresikan? Bermanfaatkah rasa ini bagi saya dan bagi Sang Empunya rasa? Bagaimana menerjemahkan rasa ini dalam koridor Sang Pencipta?

Intinya, untuk segala sesuatu, ada waktunya. Ada waktu untuk mencinta dan ada waktu untuk menyelesaikan cinta. Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Dan bahwa setiap orang dapat makan, minum dan menikmati kesenangan dalam segala jerih payahnya, itu juga adalah pemberian Allah. Terpujilah Allah.

Saya makan bubur dulu, keburu dingin.

Advertisements

One thought on “Tentang Rasa

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s