Hari Ketiga: Irreplaceable Bromo

Pukul 00.00 WIB dijemput pake jeep guede di penginapan sama mas Ibas: Imam Basuki dari Bromo Adventure dan mas Hendra, dan eng ing eng dari Batu ke Bromo jauuh ya bok? Ditambah jalanan udah sepi banget, tapi berhubung ini ceritanya petualangan ya harus banget lah mata tetap terjaga.
Jadi sekitar jam setengah 2 sampelah ke pos pertama Gunung Bromo dan sekali lagi eng-ing-eng…savana-nya Bromo KEBAKARAN sodara-sodara

Kebakaran ini membawa dampak sulitnya masuk ke penanjakan tempat ngeliat matahari terbit. Tapi sang supir handal: mas Hendra dengan semangat 45 meyakinkan kami (terutama Icha yang udah super khawatir mengenai keamanan jalan ke Bromo) untuk tetep menerjang savana yang kebakaran. Doi mah santai aja karena mengaku udah hapal jalan ke Bromo padahal penumpang di belakang, khususnya Icha, hahaha, udah deg-deg ser mengenai keamanan jalur apalagi jarak pandang cuman 1-2 meter, kalo saya mah sibuk berupaya menghangatkan diri karena ini dini hari di Bromo itu sungguh super dingin apalagi gw cuma pake jaket tipis gegara males ogah bawa jaket tebel. Ini usaha menghangatkan dirinya bahkan lebih susah dari pada menghangatkan hati pasca tahu kenyataan pahit dari gebetan #uhuk.

Tapi berkat pemeliharaan Tuhan, kami akhirnya sampai di…entah itu apa namanya, pokoknya dekat dengan penanjakan 3, sisi yang paling biasa untuk ngintip sunrise Bromo, tapi yang paling aman saat kebakaran begini. Tapi nyambe jam 3, jadi setidaknya harus nunggu sejak di dalam jeep sebelum naik ke penanjakan 3. Ini dia tantangan paling utama karena harus menunggu dalam kondisi KEDINGINAN. Kami adalah kumpulan anak Jakarta yang biasa lari ke tempat ber-AC kalo kepanasan dan lari nyari remot AC kalo kedinginan. Sedangkan kondisi si Bromo yang mungkin suhunya belasan derajat Celcius ini mau diapain? Apalagi si Wulan berasa kedinginan banget, jadi kami pun berupaya melakukan segala supaya si Wulan tetap hangat sembari berupaya menghangatkan diri sendiri.

Tapi perjalanan panjang ini tentu berbuah manis. Setiba di penanjakan 3, pemandangan si gunung Batok, Bromo dan kawan-kawannya beneran pemandangan yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Satu kata: INDAH, tidak tergantikan, istimewa, cantik, original. Gak tau lagi mau ngomong apa. Si matahari terbit sekitar pukul 04.30, dengan elegan.

Selesai dari sana, kami diantar ke pasir berbisik dan selanjutnya naik ke Gunung Bromo. Si Bromo itu ternyata gersang, gunung pasir gitu, entah kenapa kok bisa seperti itu, tapi sekali lagi INDAH. Gak ada pemandangan atau mol yang bisa menggantikan panorama Bromo lah.

Dan eng ing eng, buanyak banget turis mancanegaranya, dibanding dalam negeri. Dan si bule-bule juga udah biasa dengan kedinginan, gak kayak turis domestik macam kami yang gagap karena suhu menurun drastis. Rekan-rekan lain memutuskan gak naik ke Bromo, tapi saya sama Iboy dengan semangat tawar-menawar ke abang2 tukang kuda niat ke atas, lagian udah sampe sini, kapan lagi naik? Sekali lagi mesti usaha karena bau belerangnya menyengat banget, jadi catet ya harus bawa masker ke sini dan tangga ke atas kawah Bromonya itu tinggi aja loh, modal niat gak cukup, harus ada nafas panjang dan kaki yang kuat, untung gw dan Iboy suka olahraga jadi kuat sampe puncak, hahahah.

Selesai dari kawah, kami ke batu apaa gtu…yang kami pikir batu aja, tapi ternyata batu apaaa gtu. Foto-foto sebentar akhirnya memutuskan untuk langsung pulang tanpa mampir ke air terjum alas coban (kalau gak salah). Lagi-lagi kami ini anak kota banget yang gak biasa berlelah-lelah dengan alam, hahaha.

Kami pun menyempatkan diri untuk mengisi perut di resto rawon langganan SBY seharga Rp42 ribu dan diantar sama mas Hendra ke taman dekat stasiun Malang untuk cuci muka dan gosok gigi. Iucchh…

Akhirnya saat berpisah dengan mas Hendra dan jeep canggihnya, cukup dengan membayar Rp365 ribu per orang ditambah tip dan senyum manis 🙂 kami sudah dapat pengalaman yang tidak tergantikan.

Dan sekali lagi, menghabiskan waktu di kereta! Dari malang pukul 14.55 menuju ke Banyuwangi untuk sampai pukul 22.27 WIB.

Di kereta nyari2 penginapan dan nemu penginapan OK rekomendasi bu Berylinda. Cukup Rp246 ribu semalem dan udah dapet sarapan untuk 4 orang. Tempatnya bersih dan yang penting ada handuknya, berhubung saya masih belum mengeluarkan handuk dari hari pertama, fufufu.

 

The view from the top: irreplaceable
The view from the top: irreplaceable
Bersama dengan si mas Hendra di Pasir Berbisik
Bersama dengan si mas Hendra di Pasir Berbisik
up-up-up
up-up-up
Berpacu dengan jeep
Berpacu dengan jeep
ya halooo
ya halooo
Minum susu jahe sambil mandangin Bromo
Minum susu jahe sambil mandangin Bromo
Savana Bromo kebakaaarrr
Savana Bromo kebakaaarrr
Yihaaa....kuda...kuda...
Yihaaa….kuda…kuda…
Dari atas kuda
Dari atas kuda
Dari dalam jeep
Dari dalam jeep
Kawah Bromo
Kawah Bromo
Pemandangan dari kawah Bromo
Pemandangan dari kawah Bromo
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s