Hari ke-6: Kebebasan Beragama mendukung Pertumbuhan Ekonomi

22 Agustus 2014

Satu hari lagi untuk belajar. Kali ini sesi pagi belajar mengenai asal otoritas dalam pemerintah. Otoritas “raja Israel” diperopleh dari Tuhan dan rakyat, misalnya saja pemilihan Saul sebagai raja adalah karena Tuhan yang memilih Saul dan kemudian rakyat Israel juga memilih dia. Bagi Israel yang masih dalam kondisi masyarakat sederhana, pemilihan raja tersebut memang mudah, tentu berbeda jauh dengan kondisi masyarakat modern yang kompleks.

Hanya, yang tidak boleh dilupakan adalah konsep perjanjian (covenant) yaitu rangkaian janji antara para pihak untuk mendapatkan hubungan permanen. Artinya, meski rakyat Israel meminta raja (yang artinya berupaya untuk menggantikan Tuhan), menyembah ilah lain, menindas orang miskin, Allah tetap memegang bagian perjanjiannya. Sehingga otoritas raja umat perjanjian juga tetap berasal dari Tuhan.

Lalu bagaimana untuk mencegah pemerintah yang dipilih rakyat itu merugikan pihak-pihak di negara tersebut? Itulah kebutuhan akan adanya konstitusi yang baik untuk menjaga ketertiban dan memberi perlindungan bagi kaum minoritas maupun mayoritas. Itulah sebabnya masyarakat juga harus memilih pemimpin yang berintegritas agar menghadirkan keadilan di masyarakat dan menjalankan konstitusi dengan benar.

Sesi selanjutnya diisi oleh Azyumardi Azra tentang mantan rektor Universitas Negeri Islam Syarif Hidayatullah Jakarta itu juga bisa dilihat di sini. Saya belajar menganai semakin banyaknya fundamentalis agama saat globalisasi berkembang, artinya makin butuh toleransi agama. Padahal agama adalah salah satu faktor perekat di Indonesia dapat merdeka. Indonesia is a politic of multiculturalism entity based on Pancasila and Bhineka Tunggal Ika. Tanda yang sederhana adalah negara berpenduduk Islam terbanyak namun merayakan seluruh hari raya agama. Salah satu cara untuk mengatasi kaum fundamentalis adalah dengan menerapkan local wisdom dan tidak memberi ruang bagi radikalisme di politik.

Selesai belajar mengenai toleransi agama, dilanjutkan dengan belajar ekonomi kesejahteraan bersama profesor FE UI Suahasil Nazara. Sang profesor klimis ini bisa dengan mudah dan terang saat menjelaskan mengenai kemiskinan, penduduk, program-program pemerintah, koefisien gini, kelas menegah, dan keterkaitan berbagai faktor tersebut, namun tetap belum bisa menjawab lobang besar yang namanya “minim pengawasan” dari program-progam pengentasan pemerintah. Suahasil masih menjawab pengawasan adalah “tugas kita bersama”, while on the other side someone is still bluffing life is never fair young man!

sang dosen in action
sang dosen in action (maaf gambar burem)

Sesi siang kembali bersama dengan Paul, kali ini membahas mengenai kebebasan beragama dan beragam statistiknya, agak repot untuk dijelaskan di sini. Tapi kuncinya suatu pembatasan agama terbukti semakin memiskinkan negara dan negara miskin nyata-nyata adalah pelaku membatasi praktek beragama. Saatnya menganggap serius agama demi kesejahteraan bersama.

Sesi sore dijadikan sesi refleksi bersama karena Pak Emil Salim yang seharusnya mengisi sesi harus check up ke dokter. Refleksi dibutuhkan agar dapat mengisi diri saat para pandu sudah pergi. Refleksi juga menjadi perlu agar punya kriteria dan waktu tertentu agar kegiatan tak semata candu. Refleksi dapat memberi arti, siapa saya, siapa Tuhan dan apa hubungan keduanya yang pasti. Saya bersyukur atas refleksi ini.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s