Hari ke-4: The Pursuit of Happiness

20 Agustus 2014

Pembahasan pagi kali ini adalah tentang otoritas politik sejati merupakan otoritas dari Tuhan. Tuhan Yesus sendiri mengatakan kepada Pontius Pilatus bahwa ia tidak punya otoritas selain karena diberikan oleh Tuhan karena memang seluruh otoritas adalah berasal dari Tuhan (Matius 28:18). Sehingga bila kita menaati pemerintah berarti juga menaati Tuhan.

Tapi pemerintah jelas punya batasan yaitu praktek kelaliman, apalagi Yesus sendiri disalibkan pada masa pemerintahan Herodes. Dalam teks Alkitab, baik Paulus, Yesus maupun Petrus tidak menerima Kaisar sebagai otoritas tertinggi. Artinya, pemerintah ada dalam ruang lingkup Allah, dan bila sejalan dengan pola pikir Tuhan, taatilah dengan sukacita, tapi bila tidak lawanlah dengan berani sesuai dengan koridor Allah. Pengajaran yang menarik sekaligus menantang.

Sesi selanjutnya diisi Pak Pataniari Siahaan yang bercerita tentang perjalanan negara demokrasi dan bagaimana implementasinya dalam sejarah, sayang karena sejarah disampaikan ala sejarawan saya agak kehilangan sesi ini *my bad.

Namun keadaan langsung berubah saat sang jenius Yudi Latif (maaf saya memang fans-nya) menerangkan mengenai Pancasila dengan sangat kaya. Dimulai dengan pertanyaan apa tujuan bernegara?
Mengutip Hatta dan konstitusi AS, tujuan bernegara adalah mencapai the pursuit of happines yang diterangkan dalam lima sila Pancasila:
1. Ketuhanan: masyarakat Indonesia terbuka untuk hal-hal yang trasenden. Ketuhanan ini adalah cara memahami Tuhan dengan prinsip welas asih, cintailah sesamamu seperti mencintai diri sendiri
2. Kemanusiaan: mengembangkan kemanusiaan yaitu berbagai peradaban yang datang dari Indonesia karena memang budaya Indonesia berasal dari berbagai penjuru dunia. Kebudaya-kebudayaan itu diterima dengan adil dan beradab
3. Gotong royong (active engagement) sebagai kata kerja. Ini terjadi karena karakter Indonesia adalah unity in diversity (bhineka tunggal ika), mereka yang tidak dapat menerima perbedaan dikategorikan sebagai “not quiet Indonesian”
4. Demokrasi Permusyawaratan: rakyat sebagai keseluruhan entitas, yang memerintah harus berkorban demi rakyat
5. Keadilan sebagai impian bersama. Pancasila menjadi impian sekaligus panduan mau ke mana Indonesia. Sejauh belum bisa merealisasikannya maka tidak akan mampu mencapai tujuan nasional.

Penjelasan singkatnya adalah:

So what do we want? Happiness? There’s no happiness without liberty, there’s no liberty without self-government, there’s no self-government without constitution, there’s no constitution without moral, but what is moral of the republic? It is Pancasila. -Yudi Latif-

Saatnya radikalisasi Pancasila! Menginstrumenkan Pancasila agar Pancasila implementasinya bisa terukur, bukan hanya pengajaran hapalan yang bergerak di ruang vakum. Roger that sir!

Bersama idola, period.
Bersama idola, period.

 

 

 

 

 

Kami selanjutnya dilatih untuk menjadi trainer untuk modul “Suara Anda Berharga” bersama dengan Pak Budi dan Bang Daniel. Seharusnya ada banyak modul tapi kami hanya mempraktekkan satu modul saja. Tujuannya adalah memberikan pemahaman tentang pentingnya rakyat memberikan suara kepada orang yang tepat tentunya. Modul-modul ini memang sangat berguna untuk para pemimpin komunitas agar masyarakat tidak apatis atau pun tidak menyerahkan suaranya ke uang yang diberikan para calon pemimpin mereka. Denger-denger sih modul ini dibagikan gratis, tapi saya belum dapat link-nya dari Institut Leimena, hmm…

Sesi sharing pengalaman melayani bangsa hari ini diisi oleh Pak Theo Sambuaga yang secara fisik tampak tidak berubah. Politisi senior Golkar itu pun tampak tetap hapal luar kepala mengenai peristiwa Malari, kalau tidak salah saya juga pernah mendengarkan ceritanya tentang topik yang sama pada semester pertama kuliah, juga di acara pelatihan kepemimpinan. Well, Pak Theo tetap menjadi teladan bahwa pemuda itu harus aktif berorganisasi dan pantang menyerah demi memperjuangkan idealisme, bahkan tidak soal kalau dipenjara (entah juga kalau anak muda zaman sekarang). Keinginan Pak Theo yang belum tercapai mungkin (cuma) menggendong cucu, karena anak-anak laki-lakinya yang sekarang berusia 29 dan 34 (lupa, sekitar itulah) belum menikah. Akuuh mau paak!! Akuuuh mauuu!! *mureh

Sayang anaknya gak diajak Pak! *glek
Sayang anaknya gak diajak Pak! *glek
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s