Hari ke-3: Action Talks Louder than Words

19 Agustus 2014

Paul hari ini mengajarkan mengenai Tuhan mulai mendelegasikan kuasanya sebagai hakim kepada manusia. Hal itu tampak pada tanggung jawab yang dimiliki Nuh, Abraham dan Musa. Panggilan Tuhan kepada manusia bukan hanya menjadi petani, pemburu atau lainnya tapi juga hakim sebagaimana Allah adalah hakim yang terawal karena manusia adalah gambar dan rupa Allah!

Abraham misalnya adalah pemimpin keluarga sekaligus pemimpin dari sukunya. Ia bahkan berani “tawar-menawar” dengan Tuhan mengenai Sodom dan Gomora. Misalnya pada Kej. 18: 19 disebutkan bahwa “For I have chosen him, so that he will direct his children and his household after him to keep the way of the LORD by doing what is right and just,” mandatnya adalah membawa keadilan.
Bahkan nabi-nabi di PL pun ikut mendapatkan mandat tersebut. Max Webber pun menyebutkan bahwa nabi-nabi seperti media karena pekerjaannya adalah mengekspose situasi dan mengkritik apa yang terjadi. Jadi tidak ada alasan menyembunyikan keadilan tersebut!

Kami kembali bertemu dengan Pak Maruarar Siahaan untuk belajar negara hukum. Pak Maruarar memperlihatkan kuatnya bangunan negara hukum Indonesia dan bagaimana hal itu disusun dalam struktur lembaga pemerintahan maupun perundangan. Negara hukum sendiri harus punya tiga ciri: (1) negara harus tunduk kepada hukum, (2) pemerintah menghormati dan melindungi hak-hak individu, (3) adanya peradilan yang bebas dan tidak memihak. Apakah ketiganya sudah (berusaha) (di)hadir(kan) di Indonesia?

Meski tidak sabar untuk field trip, kami harus bersabar untuk satu sesi lagi bersama Pak Hendrawan Supratikno. Politisi PDI-Perjuangan itu setidaknya memberikan gambaran realistis mengenai negara Indonesia. Tentu Pak Hendrawan mempromokan negara kesatuan Indonesia, sayangnya meski kesatuan memang modal dasar dasar, takdir Allah, hingga gen asli Indonesia, namun belum dapat menunjukkan cara untuk menjaga kesatuan itu.

Akhirnya!! Kunjungan ke lembaga-lembaga pemerintah….

Sesi kunjungan pertama adalah ke Mahkamah Konstitusi untuk bertemu hakim konstitusi pertama dan satu-satunya bu Maria Farida. Meski pernah bertemu sebelumnya di KPK, tapi konteks pertemua kali ini berbeda karena bu Farida  membuat kami menjadi sadar mengenai semangat dan perjalanan awal pendirian Mahkamah Konstitusi, kewenangan MK, serta alur pengajuan sengketa ke MK. Kesimpulan saya sementara, menjadi hakim MK adalah pekerjaan yang melelahkan tapi patut diperjuangkan karena yang diperjuangkan bukanlah semata tata aturan di atas kertas, tapi spirit hingga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bangsa yang beradab.

Bu Maria Farida in action!
Bu Maria Farida in action!

Kunjungan selanjutnya adalah ke Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) yaitu organisasi yang mendorong dialog antarkeyakinan, demokrasi dan perdamaian di Indonesia. Dari kunjungan tersebut, saya kembali mengamini bahwa paham kebebasan dan persamaan kesempatan beragama adalah hal yang mutlak, tapi siapa mau bayar harga untuk mengerjakannya?

Daaannn… akhirnya sampailah ke sesi Buya Syafii Maarif. Buya yang sudah 79 tahun ini mengaku datang sendirian hanya ditemani tongkat dari Yogyakarta, membuat saya berpikir bahwa semua orang hebat tentu rendah hati dan sederhana. Karena akhirnya yang mengatakan mereka hebat dan sederhana atau apapun itu adalah orang lain yang melihat perbuatan kita. After all, act talk lauder than words. Bumi ini milik semua.

Ia mengaku adalah anak kampung, kampung yang baru pada 2005 lalu ada listrik dan aspal. Tapi sebagai “anak kampung” Buya sudah sekolah ke Ohio State University untuk gelar master dan Chicago University untuk gelar doktoralnya meski gelar-gelar itu pun tidak pernah ia lekatkan di namanya. Buya mengaku tidak punya ijazah SMA, namun tetap bisa berkuliah. Meski mengaku bahwa perjalanan hidupnya terlambat, tapi karena pergaulan karena menjadi ketua umum organisasi Islam besar Muhammadiyah pergaulan itu yang merangsangnya banyak belajar untuk memberi dan menerima apalagi menjadi ketua di pergantian orde baru ke reformasi.

Buya mendorong dan menjaga pluralisme, tentu ini sudah tampak dengan pemberian Maarif Award kepada para penjaga pluralisme, karena tanpa pluralism bubarkan saja republik!

Itu fakta keras, yang menolak pluralisme merasa benar di jalan yang sesat. Sikap memonopoli kebenaran jelas tidak benar.

Demokrasi pun selayaknya harus dalam kata dan perbuatan, jangan menjadi politisi yang rabun ayam yaitu hanya melihat yang dekat-dekat saja tapi orang yang jauh tidak kelihatan. Untuk itu Indonesia butuh pembaruan, risiko pembaruan itu pasti dilawan tapi diam-diam diikuti. Another inspiring night folks!

Berhubung Buya ogah foto sendiri sama perempuan, tentu harus ada sesi foto bareng Buya dan Pak Jacob bersama peserta-pantia perempuan
Berhubung Buya ogah foto sendiri sama perempuan, tentu harus ada sesi foto bareng Buya dan Pak Jacob bersama peserta-pantia perempuan
Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s