Hari pertama: Kalau Tuhan mau, ya akan terjadi

Tulisan ini seharusnya dipublikasikan secara teratur per hari, tapi karena keterbatasan daya dan waktu, akhirnya digabung untuk ditampilkan lebih lengkap hari ini. Tujuannya hanya satu, supaya hal yang berharga di depan mata tidak hilang begitu saja.

Hari pertama: Kalau Tuhan mau, ya akan terjadi
17 Agustus 2014.

Saya bersyukur dibolehkan Tuhan untuk mengikuti Johannes Leimena School of Public Leadership yang digagas oleh Institut Leimena yaitu satu lembaga kajian yang didirikan oleh Persatuan Gereja-gereja di Indonesia, informasi lebih lengkap dapat dilihat pada tautan. Saat tiba di tempat pelatihan yaitu Wisma PGI Menteng, ekspektasi saya adalah para peserta setidaknya seumuran atau yah beda-beda tipis lah di atas saya, namun voila…yang ikut ternyata pantasnya saya panggil bapak (dan sedikit abang). Total ada 22 peserta dari 13 daerah dengan 7 orang pendeta, 1 orang mahasiswa S2 Sekolah Tinggi Teologia (yang artinya akan jadi pendeta juga), dan 14 orang sisanya pegawai negeri sipil, dosen, pengacara publik, wiraswasta, kepala desa, anggota KPUD hingga anggota DPRD kota terpilih di Maluku dan hanya 3 orang perempuan termasuk saya.

Saya melewatkan ibadah pembuka yang dipimpin oleh Pak Budi Setiamarga, salah satu trainer sekaligus dosen teknik material ITB. Selanjutnya penjelasan mengenai Institut Leimena dari sang Direktur Eksekutif yang tampak masih muda Matius Ho, jadi saya masih berpengharapan kegiatan ini pun punya semangat anak muda.

Tetapi…sesi selanjutnya ternyata dibawakan oleh Pak Pontas Nasution, yang pada November 2014 nanti akan berusia 78 tahun dan luama banget di Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI). Meski si bapak telah lanjut dan harus dibantu tongkat, tapi saat menyampaikan pemikirannya mengenai “Orang Kristen dalam Kepemimpinan Publik Bangsa” tetap bersemangat. Salah satu hal yang melekat kuat dalam pemahaman saya adalah: menggunakan pendekatan Pancasila dalam berpolitik, bukan agama. Dalam politik berlaku “power polics” yaitu yang besar cenderung menang, untuk itu karena kekristenan tentu bukan agama mayoritas dalam konteks nasional, maka pendekatan kebangsaan berdasar Pancasila yang menekankan gotong royonglah yang menjadi kekuatan. Meski sejumlah kawan dari daerah menilai bahwa pendekatan agama dan suku masih efektif dalam menjaring massa dan suara, tapi saya setuju dengan Pak Pontas: bila lawan menggunakan cara agama, ya lawan! Karena sesungguhnya memang manusia yang berdosa menjadi pribadi individualis, padahal makin banyak kemiskinan, korupsi, kesenjangan dan ragam masalah lain. Untuk itulah orang Kristen dipanggil untuk memperhatikan mereka yang miskin, lemah dan kurang berpendidikan. Artinya melayani masyarakat miskin sama dengan menerjemahkan jalan Pancasila. Sesederhana itu.

Foto bersama dengan Pak Pontas, untuk saya pakai baju mentereng, jadi eye-catching bangets
Foto bersama dengan Pak Pontas, untuk saya pakai baju mentereng, jadi eye-catching bangets

Selanjutnya sharing hidup Pak Maruar Siahaan yang super lucu. Pak Maru adalah mantan hakim konstitusi (dan saya baru tahu, sungguh memalukan). Pak Maru adalah hakim karir yang dengan yang mengaku tidak terlalu agamais tapi berani untuk melawan atasannya saat bertindak seleweng. Pak Maru yang pernah menjadi hakim di Kendari, Deli Serdang, Bengkulu dan beragam daerah lain meyakini prinsipnya

Kalau Tuhan mau memberi, ya bisa

Manusia tinggal harus sabar, belajar terus karena mereka yang mencintai ilmu itulah yang akan kaya. Ia mengaku memang bergumul untuk masalah uang pada awal karirnya, bahkan saat karir telah menanjak, tapi pembuktiannya adalah teman-temannya yang dulu tampak lebih berada namun saat ini malah meminta bantuannya, artinya ya prinsip “Kalau Tuhan mau memberi, ya bisa” terbukti. Toh kalau berada di pihak yang benar kan tidak perlu main duit? Yang terpenting adalah bersikap jujur yaitu tidak pernah ragu mengungkapkan kebenaran, namun penting dengan cara sopan.

Maruarar Siahaan saat berbagi hidup dalam program JLSOPL
Maruarar Siahaan saat berbagi hidup dalam program JLSOPL

Kesimpulan hari ini: Tuhan buka jalan bagi mereka yang setia bekerja untuk Tuhan.
Aplikasi: berani membuat satu keputusan mengenai pekerjaan, artinya berani juga menanggung risiko atas keputusan itu. Tapi kan, kalau Tuhan mau, ya akan terjadi. Semangat!

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s