Mengeluh

Saya bukan orang yang suka mengeluh, tapi kejadian tiga minggu lalu membuat saya mempertanyakan jalan yang selama ini saya tempuh. Papa memang sudah sakit jantung sejak 2004, dan karena makanan yang tidak terkontrol maupun ritme hidup yang tidak sehat maka dia pun kembali terkena serangan. Sayangnya serangan ini tampak lebih parah karena selain jantung jugamengakibatkan sedikit penggumpalan darah di otak alias stroke.

Hasilnya adalah dia harus diopname di rumah sakit, saya dan mama juga menginap selama 9 malam di ruang tunggu Intensive Cardio Care Unit dan 4 malam di kamar pasien. Masih ada imbas lain seperti mengamati 4 orang pasien meninggal di ruang ICCU dan bagaimana masing-masing keluarga menghadapi kehilangan itu; menjadi bagian dari ratusan orang mengantri setiap hari di loket-loket pendaftaran, ruang tunggu maupun kamar pasien rumah sakit untuk mengusahakan keadaan yang lebih baik bagi diri mereka atau keluarganya; serta mengalami sendiri kerumitan sistem rumah sakit sebagai harga yang harus dibayar karena tidak menjaga gaya hidup sehat.

Baiklah, sekali lagi hingga saat ini saya yakin bahwa saya bukan orang yang mudah mengeluh, tapi pengalaman ini tentu sangat tidak terencana dan merusak rencana-rencana yang sudah saya susun sebelumnya. Saya mengeluh. Rencana itu mungkin lebih tepat dibaca sebagai perhatian, artinya ada banyak hal lain yang tadinya mendapat perhatian saya namun sekarang hampir seluruh perhatian difokuskan untuk pemulihan kesehatan papa, suatu hal yang tidak menjadi perhatian saya sebelumnya.

Pada awalnya saya tidak menyukai titik perhatian saya yang baru ini, saya lebih suka pergi dan lari mengerjakan hal lain karena pusat perhatian yang baru ini bukan hanya membutuhkan tenaga dan biaya melainkan juga emosi dan keikhlasan hati. Tapi lari tentu bukan pilihan apalagi keputusan, ini bukan lagi tentang rencana atau perhatian yang saya berikan melainkan perhatian yang memang dia butuhkan.

Kembali ke kalimat pertama saya: mempertanyakan jalan yang selama ini saya tempuh. Saya memang sedang membuat rencana-rencana mengenai jalan hidup saya, sebelum papa terkena serangan. Tapi sang Khalik mengintervensi rencana tersebut. Sampai sekarang saya mengaku belum bisa menyampaikan “Terpujilah Tuhan” dengan tulus mengenai kondisi keluarga saya. Saya juga tidak merasa semakin religius dan makin dekat kepada Tuhan setelah keadaan ini. Lagipula siapa yang dapat menilai religiusitas seseorang? Tapi setidaknya saya belajar sesuatu.

Saya teringat dengan kalimat tokoh Pi Patel dalam film “Life of Pi” saat ia diterjang badai dan saat bersamaan ada harimau benggali Richard Parker di dalam perahu dan diperparah karena cadangan makanannya hanyut. Pi lalu berkata “Mengapa Kau (Tuhan) menakuti dia (Richard Parker)? Saya kehilangan keluarga saya! Saya kehilangan semuanya! Saya menyerah! Apalagi yang Engkau inginkan?”. Well, bagi saya pribadi saya memang belum kehilangan seluruhnya, tapi sekarang saya menyerah terhadap rencana-rencana yang saya susun sendiri. Jadi apalagi yang Kau inginkan?

life of pi

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s