Natal yang dinanti-nantikan

Saya selalu menantikan Natal. Bukan karena (tradisi) beli baju kembaran di keluarga. Bukan karena camilan dan makanan yang melimpah. Bukan pula karena mendapat hadiah. Tetapi karena saat Natal pasti gereja penuh.

Saya selalu suka gereja yang penuh. Orang-orang benar-benar niat untuk datang ke gereja. Hal itu ditunjukkan dengan parkiran yang bisa sudah terisi separuh 45 menit sebelum ibadah mulai. Jemaat yang datang pun mengenakan baju lebih rapi dari biasanya (gak ketinggalan dengan segala asesoris yang melekat di tubuh). Mereka datang bersama-sama dengan keluarga, keluarga yang memang ditemui setiap hari, tapi belum tentu setiap hari merasa satu keluarga. Rombongan keluarga itu pun bisa heboh untuk berebut tempat duduk yang cukup menampung semuanya; yang datang duluan boleh santai memilih tempat, tapi yang datang belakangan bisa-bisa kelabakan dan kecele karena gak dapat tempat duduk favorit; paling apes malah terpisah dari orang tersayang.

Motivasi mereka datang ke gereja bisa dikatakan beragam. Saya tidak mempermasalahkan motivasi apapun. Apakah hanya karena kebiasaan dalam keluarga; atau keterpaksaan dari orang tua; atau keinginan pribadi untuk menunjukkan eksistensi berikut penampilan diri. Saya tidak keberatan akan hal itu. Karena semuanya tetap bernyanyi, memuji Tuhan entah dengan suara merdu dan tidak, entah dengan konsentrasi atau mikirin BBM orang. Tidak masalah, yang penting berkata “Sudah lahir Kristus Raja, mari sujud menyembah” (Hai malaikat dari sorga, KJ 97).

2012-12-24 19.10.47
antri keluar gereja

Saya tahu bahwa  Tuhan tidak berkenan pada korban persembahan umat yang tidak tulus seperti dalam Yer.6:20 –> Apakah gunanya bagi-Ku kamu bawa kemenyan dari Syeba dan tebu yang baik dari negeri yang jauh? Aku tidak berkenan kepada korban-korban bakaranmu dan korban-korban sembelihanmu tidak menyenangkan hati-Ku. Tapi persembahan kali ini kan “hanya” kehadiran dan lagu, lagipula Kristus sendiri  punya kasih yang besar terhadap orang banyak yang mengikuti dia –> Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. (Mat 9:36)

2012-12-24 19.08.37
ayok antri keluar

Tidak semua diambil jadi “murid” tapi mereka semua dilayani oleh murid. Tinggal meminta pimpinan Tuhan untuk memimpin sendiri orang banyak itu, bisa saja lewat para murid.

Aaah..senang sekali bila Natal tidak hanya setahun sekali, gereja dapat penuh tanpa disuruh-suruh. Para murid juga pasti semangat dengan jumlah yang besar itu, tapi lagi-lagi Natal cuma diperingati sekali setahun, tantangannya tinggal bagaimana memenuhkan gereja dengan orang-orang yang sungguh2 mencari dan menyambut Tuhan tidak sekali setahun.

                Selamat Natal

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s