Tentang Sariawan

Udah lama nih gak update blog. Mungkin karena udah punya jurnal tertulis. Tapi belakangan jurnalnya juga mandek. Jadi serba salah.

Jadi pagi ini gw baca tulisan tentang Prof Dr Sawitri Supardi Sadarjoen Psi Klin, seorang psikolog klinis senior yang terpilih menjadi cendekiawan berdedikasi Kompas. Prof Sawitri mengatakan bahwa “Banyak kasus sakit fisik yang dialami seseorang merupakan manifestasi gangguan atau ketegangan emosional yang dialami si penderita. Ketegangan emosional itu disalurkan ke bagian tubuh yang paling lemah sehingga terjadilah gangguan soma (fisik). Misalnya orang yang mengalami gastritis (maag) berarti maag itu bagian terlemah dari tubuhnya, setiap orang berbeda.”

Gw langsung keinget “sakit fisik” gw dalam sebulan terakhir yaitu sariawan. Kemunculan si sariawan ini sangat gw ingat yaitu pada Kamis, 22 Juni 2017 karena ada tragedi tertentu yang antara penting dan gak penting hari itu, lumayan bikin mewek dan semoga udah selesai hari itu juga. Sebenarnya stres yang gak penting-penting amat sih.

Kalau dipikir-pikir belakangan ini gw banyak mikirin hal yang gak penting-penting amat tapi gak bergerak untuk menyelesaikan hal yang penting, kek jadi set back gitu. Bukannya move on tapi malah nyaris kembali ke masa-masa kekelaman by overthinking and do nothing, padahal banyak hal yang bisa dilakukan tanpa perlu mikir-mikir banget.

Sebenarnya ini balik lagi ke tujuan gw, mau mengejar yang sementara atau yang kekal. This obviously should be clear and bold. Persoalannya walaupun udah diniatin tapi seperti katanya Paulus dalam Roma 7:19 “Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat”. Jadi gimanah? Pasrah dan nerima terombang-ambing begitu ajah?

Setelah dipikir-pikir (lagi), tujuan berganti menjadi proses dan proses pun berubah menjadi tujuan. Menuju ke tujuan melalui proses menjadi suatu perjalanan tersendiri yang membutuhkan daya tahan alias perseverance yang kemudian malah menjadi tujuan itu sendiri. Seperti sub-sub dialektika dalam pandangan para konstruktivis yang saling mempengaruhi dan bergumul untuk menunjukkan kekuatan masing-masing tapi tanpa disadari malah berujung pada suatu tujuan baru dengan proses yang tidak diperkirakan sebelumnya. Membingungkan ya?

Lalu secara acak gw membaca “Mere Christianity“-nya CS Lewis yang belom kelar juga gw baca. Dalam bab The Cardinal Virtues, Lewis menuliskan seperti ini “What you mean by a good tennis player is a man whose eye and muscles and nerves have been so trained by makin innumerable good shots that they can now be relied on. They have a certain tone or quality which is there even when he is not playing. In the same way a man who perseverences in doing just actions gets in the end a certain quality of character. Now it is that quality rather than the particular actions which we mean when we talk of a “virtue” .”

The point is people have got at least the beginnings of those qualities inside them, and there should be no possible external condition could make a ‘heaven’ for them –that is, could make them happy with the deep, strong, unshakable kind of happiness God intends for us.

Well, well, well, I must admit that I’m still far far away from the deep, strong, un-shakable kind person before God. But I wanna be the one. Sebenarnya keinginan gw cuma melakukan ini buat nyokap, melakukan itu buat bokap dan melakukan onoh buat adek gw. Tapi apakah hal itu emang yang diinginkan Yang Maha Kuasa? Dalam perjalanannya kalau gw merasa makin egois dan makin mencari aman dan makin mencari keuntungan diri sendiri, itu sudah cukup menyatakan bahwa keinginan-keinginan itu bertentangan dengan kehendak Yang Maha Kuasa karena tidak ada perseverance yang terbentuk dari melayani diri sendiri. Bukan berarti gw harus kerja tanpa istirahat atau hidup asketisme, tapi mengambil dimensi yang lain yaitu pasrah tanpa kehilangan harapan dan giat dengan tetap melekat kepada Tuhan.

Persoalannya memang manusia itu maha terbatas terhadap hal-hal yang kekal tapi maha tidak terbatas (keinginannya) terhadap hal-hal yang sementara. Inilah kenapa perlu ada waktu-waktu refleksi yang teratur dan terukur agar bisa mengecek arah setiap saat dan bukan hanya arah, melainkan cara menuju tujuannya pun harus baik-baik diperiksa agar tidak melulu melayani diri sendiri.

Semoga bukan cuman jadi tulisan

PS: ini tulisan sama gambar gak ada kaitannya sih, cuman pengen pamer makanan ajah

20170615_193229
refleksi bisa dilakukan sambil menikmati bacon beef burger
20170615_205433
bisa juga sambil makan es krim di atas brownies
20170613_201736
atau makan sirloin yang udah mateng
Advertisements

KTP-E: (K)orupsi (T)adahan (P)olitisi dan (E)ksekutif

Ini adalah tulisan panjang gw yang dinilai tidak sesuai dengan “style book” kantor, jadi gak dilepas sama kantor. Tapi kan masih bisa ditaro di blog sendiri 🙂

Jakarta, 11/3 (Antara) – KPK akhirnya membuka “nama-nama besar” yang terlibat dan diduga menikmati aliran dana KTP Elektronik (KTP-E) dalam surat dakwaan yang dibacakan pada Kamis (10/3).

“Nama-nama besar” itu berasal dari kalangan politisi yang duduk di lembaga legislatif mulai ketua DPR saat ini sekaligus ketua parpol, ketua DPR periode 2009-2014, ketua badan anggaran (banggar), wakil ketua badan anggaran, ketua komisi II DPR, wakil ketua komisi II DPR, beberapa ketua kelompok fraksi di komisi II DPR, ketua fraksi, sekretaris fraksi, yang seluruhnya berjumlah 30 orang ditambah 37 anggota Komisi II yang diduga menikmati aliran dana namun disebutkan nama-namanya.

Sedangkan dari pihak eksekutif ada nama menteri dalam negeri 2009-2014, sekretaris jenderal Kementerian Dalam Negeri (Sekjen Kemendagri), pejabat Kemendagri, audtior BPK, staf Kementerian Keuangan, pejabat di Sekretariat Kabinet, staf di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) yang berjumlah 24 orang.

Selain pejabat eksekutif dan legislatif, pihak lain yang disebutkan adalah pihak swasta yang menjadi rekanan Kemendagri dalam pekerjaan KTP-E antara lain berasal dari Perum Peruri, PT LEN Industri, PT Quadra Solution, PT Sandipala Artha Putra, PT Sucofindo dan perusahaan lain yang berjumlah tidak kurang dari 23 orang. Artinya lebih dari 100 nama yang disebut dengan terang dalam dakwaan tersebut.

“Saya sudah sampaikan (perkara KTP-E adalah) lari marathon, bukan sprint. Insya Allah terus diproses, doakan saja kami dapat menyelesaikan itu,” kata Ketua KPK Agus Rahardjo, Kamis (9/3).

Bila perkara ini adalah lari marathon, maka dua orang yang duduk di kursi terdakwa saat ini yaitu mantan Direktur Jenderakmsl Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kemendagri Irman dan mantan Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (PIAK) Kemendagri Sugiharto, barulah langkah awal di lintasan KTP-E.
Hal itu tidaklah aneh karena proses penganggaran KTP-E di DPR berlangsung pada 2009-2010 sedangkan pengerjaannya berlangsung pada 2011-2013.

Proses Penganggaran

Proses penganggaran dimulai pada November 2009 saat Menteri Dalam Negeri saat itu Gamawan Fauzi meminta untuk mengubah sumber pembiayaan proyek penerapan KTP-E yang tadinya dibiayai menggunakan Pinjaman Hibah Luar Negeri (PHLN) menjadi bersumber dari APBN murni. Usulan itu lalu dibahas dalam rapat kerja antara Kemendagri dengan Komisi II DPR.

Untuk melancarkan pembahasan tersebut, pada Februari 2010, Ketua Komisi II DPR dari fraksi Partai Golkar Burhanudin Napitupulu meminta uang kepada Irman selaku Kuasa Pengguna Anggaran proyek KTP-E. Irman akhirnya sepakat untuk memberikan uang kepada anggota Komisi II DPR.

Distribusi uang akan diatur oleh pengusaha rekanan Kemendagri yaitu Andi Agustinus alias Andi Narogong. Andi disebut-sebut sebagai pemilik PT Murakabi Sejahtera, salah satu dari tiga konsorsium pemenang pengadaan KTP-E.

Untuk mendapatkan restu dari DPR, maka Irman, Sugiharto, Andi dan Sekjen Kemendagri Diah Anggraini bertemu dengan Setya Novanto (Setnov) yang saat itu merupakan Ketua Fraksi Partai Golkar. Setnov pun menyatakan dukungan terhadap pembahasan anggaran KTP-E dan akan berkoordinasi dengan pimpinan fraksi lainnya.

Pada Mei 2010, di ruang kerja Komisi II DPR, Irman bertemu dengan Gamawan Fauzi, Diah Anggraeni, M Nazaruddin, Andi Agustinus dan sejumlah anggota Komisi II DPR saat itu Chaeruman Harahap, Ganjar Pranowo, Taufik Efendi, Teguh Djuwarno, Ignatius Mulyono, Mustoko Weni dan Arief Wibowo untuk membahas program KTP-E sebagai program prioritas utama yang dibiayai menggunakan anggaran tahun jamak.

Dalam peridoe Mei-Juni 2010, Irman meminta Direktur PT Java Trade Utama Johanes Richard Tanjaya untuk membantu mempersiapkan desain proyek KTP-E. Irman juga memperkenalkan Johanes ke Andi dan Husni Fahmi, Staf Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi BPPT, dengan menjelaskan Andi adalah orang yang mengurus penganggaran dan pelaksanaan KTP-E.

Pada Juli-Agustus 2010, Andi Narogong beberapa kali bertemu Setnov, Anas Urbaningrum, Nazaruddin karena ketiganya dianggap representasi Partai Demokrat dan Golkar yang dapat mendorong Komisi II menyetujui KTP-E.

Setelah beberapa kali pertemuan DPR menyetujui anggaran KTP-E dengan rencana besar senilai Rp5,9 triliun yang proses pembahasannya akan dikawal fraksi Partai Demokrat dan Golkar dengan kompensasi Andi memberikan fee kepada anggota DPR dan pejabat Kemendagri.

Kesepakatan pembagian anggarannya adalah:
1. 51 persen atau sejumlah Rp2,662 triliun dipergunakan untuk belanja modal atau riil pembiayaan proyek
2. Rp2,558 triliun akan dibagi-bagikan kepada:
a. Beberapa pejabat Kemendagri termasuk Irman dan Sugiharto sebesar 7 persen atau Rp365,4 miliar
b. Anggota Komisi II DPR sebesar 5 persen atau sejumlah Rp261 miliar
c. Setya Novanto dan Andi Agustinus sebesar 11 persen atau sejumlah Rp574,2 miliar
d. Anas Urbaningrum dan M Nazarudin sebesar 11 persen sejumlah Rp574,2 miliar
e. Keuntungan pelaksana pekerjaan atau rekanan sebesar 15 persen sejumlah Rp783 miliar. Selain kesepakatan pembagian keuntungan dalam pertemuan juga disepakati sebaiknya pelaksana atau rekanan proyek adalah BUMN agar mudah diatur.

Uang mulai didistribusikan oleh Andi Narogong pada September-Oktober 2010 kepada anggota DPR. Akhirnya pada 22 November 2010, DPR pun menyetujui anggaran KTP-E.
Pada Februari 2011, Andi menyampaikan ke Sugiharto akan memberikan lagi uang senilai total Rp520 miliar di antaranya: Partai Golkar sejumlah Rp150 miliar, Partai Demokrat sejumlah Rp150 miliar, PDI Perjuangan sejumlah Rp80 miliar, Marzuki Ali (sebagai Ketua DPR saat itu) sejumlah Rp20 miliar, Anas Urbaningrum sejumlah Rp20 miliar, Chaeruman Harahap sebesar Rp20 miliar dan partai lain sejumlah Rp80 miliar.

Akhirnya pada 17 Februari 2011, Dirjen Angaran Kemenkeu Herry Purnomo pun memberikan izin Kemendagri melaksanakan kontrak tahun jamak KTP-E sebesar Rp5,92 triliun dengan rincian sejumlah Rp2,29 tirliun pada 2011 dan pada 2012 sejumlah Rp3,66 triliun.

Kemendagri masih meminta tambahan anggaran pada 27 Juni 2012 sebesar RpRp1,045 miliar yang akan masuk dalam APBN 2013.

Proses Pengadaan

Sedangkan dalam proses pengadaan, Andi Narogong menjadi orang yang menginisiasi tim Fatmawati (sesuai lokasi pertemuan di ruko di daerah Fatmawati, milik Andi) sejak Mei-Juni 2010.

Tim tersebut dipecah menjadi 3 tim peserta lelang yaitu: Konsorsium PNRI yang terdiri dari Perum PNRI, PT Len Industri, PT Quadra Solution, PT Sucofindo, PT Sandipala Artha Putra; Konsorsium Astragraphia yang terdiri dari PT Astra Graphia IT, PT Sumber Cakung, PT Trisaksi Mustika Graphika, PT Kwarsa Hexagonal; dan  Konsortium Murakabi Sejahtera yang terdiri dari PT Murakabi, PT Jama Trade, PT Aria Multi Graphia dan PT Stacopa.

Tim itu juga yang membuat sistem dengan konfigurasi KTP-E disinkronkan dengan produk-produk tertentu dari vendor yaitu (1) Software Data Base dari ORACLE, (2) Software AFIS dari L-1, (3) Hardware Data Base dari PC dan HP, (4) Software Windows dari Microsoft dan (5) Chip dari NXP.

Harga Perkiraan Sendiri (HPS) dan analisa harga satuan per keping blanko KTP-E tahun 2011-2012 juga berdasar pada ‘price list’ yang disusun tim Fatmawati yang telah dinaikkan harganya (mark up) dan tidak memperhatikan diskon terhadap barang-barang tertentu dalam HPS tertentu.

Selanjutnya Sugiharto atas persetujuan Irman menyatukan 9 lingkup pekerjaan yang berbeda yang menuntut kompetensi yang berbeda pula menjadi 1 paket pekerjaan agar meminimalisasi peserta lelang agar dapat memenangkan konsorsium PNRI.

Dalam proses pelelangan sejak Februari- Juni 2011 itu, Andi juga mendistribusikan uang kepada Ketua Tim Pengadaan Kemendagri Drajat Wisnu Setyawan dan panitia pengadaan, Sekjen Kemendagri serta berbagai pihak terkait.

Pada 20 Juni 2011, panitia pengadaan pun mengumumkan penetapan pemenang lelang KTP-E yaitu Konsorsium PNRI dengan cadangan konsorsium Astraprahia.
Rincian pekerjaannya adalah pada 2011 sejumlah Rp2,262 triliun untuk blangko KTP berbasis chip sebanyak 67.015.400 keping di 197 kabupaten/kota dan pada 2012 senilai Rp3,579 triliun untuk 105 ribu blangko KTP berbasis chip di 300 kabupaten/kota.

Dalam bekerja, ternyata konsorsium PNRI tidak bekerja sesuai dengan kontrak karena sampai akhir pelaksanaan pekerjaan yaitu 31 Desember 2013, blankto KTP-E hanya sejumlah 122.109.759 keping, di bawah target pekerjaan dalam kontrak yaitu pengadaan, personalisasi dan distribusi sebanyak 172.015.400 keping blangko KTP-E.

Apalagi KTP-E itu pun di bawah standar karena tidak memenuhi spesifikasi sitem keamanan kartu dan data dan mengakibatkan ketunggalan KTP elektronik tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Namun Konsorsium PNRI tetap mendapat pembayaran secara bertahap yaitu Rp4,917 triliun yang dilakukan secara bertahap mulai 21 Oktober 2011 sampai 30 Desember 2013. Jumlah itu sesungguhnya separuh lebih mahal dari harga riilnya yang seharusnya hanya sejumlah Rp2,626 triliun.

“Bahwa rangkaian perbuatan para terdakwa secara bersama-sama tersebut, telah mengakibatkan kerugian keuangan negara sebesar Rp2,314 triliun sesuai dengan Laporan Hasil Audit Dalam Rangka Penghitungan Kerugian Keuangan Negara ahli dari Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) pada 11 Mei 2016,” kata jaksa penuntut umum KPK Irene Putri.

Proses penindakan

KPK sudah memproses kasus ini sejak mantan Bendahara Umum Partai Demokrat M Nazaruddin mengungkapkan kejanggalan proyek KTP-E melalui pengacaranya Elza Syarief pada September 2013.

KPK pun menetapkan Sugiharto sebagai tersangka pada 22 April 2012, diikuti Irman sebagai tersangka pada 30 September 2016. Dari sana, KPK sudah memeriksa tidak kurang 294 saksi dalam proses penyidikan. Dalam proses pemeriksaan saksi di pengadilan akan ada 133 saksi yang dihasilkan.

Publik pun menunggu apakah memang benar “nama-nama besar” yang disebutkan dalam dakwaan itu benar-benar terlibat dalam proses penganggaran dan pelaksanaan KTP-E sehingga harus mempertanggunjawabkan perbuatannya secara hukum. Hal itu menjadi pekerjaan rumah tersendiri karena sejumlah nama seperti Burhanuddin Napitupulu sudah meninggal dunia pada 2010 lalu, sedangkan pengusaha Paulus Tannos berada di Singapura sehingga berada di luar yuridiksi KPK.

Jadi bagaimana penindakan kasus ini seharusnya dilakukan? Dan lebih lagi, bagaimana sebaiknya perbaikan sistem penganggaran dan pengadaan agar perkara serupa dapat dicegah?

Vineeta Yadav dalam bukunya “Political Parties, Business Groups, and Corruption in Developing Countries” (2011) mengungkapkan hipotesis mengenai jalinan korupsi antara badan legislatif, eksekutif dan pihak swasta.

Pengajar politik di Pennsylvania State University Amerika Serikat itu menyatakan korupsi akan cenderung lebih tinggi terjadi di badan legislatif yang sistem kepartaiannya kuat. Penyebabnya, pemimpin partai memainkan peran dalam mengatur aset politik seperti sumber daya alam dan lembaga pemerintah untuk meluluskan niat koruptifnya.

Di negara berkembang dengan sistem demokrasi yang peran lembaga legislatif menjadi signifikan, membuat pemimpin partai mengunakan pengaruh politiknya untuk mencari keuntungan, bahkan bahkan dapat menciptakan produk baru agar dapat mempengaruhi pemerintahan.

Bukannya mengurangi tingkat korupsi dengan mencegah korupsi para kader partai, pemimpin partai dengan jaringan partai yang kuat malah menggunakan kader di partai maupun kader yang menjadi pejabat publik untuk lebih kreatif dan produktif menarik keuntungan dari jabatan mereka sebagai anggota parelemen. Selanjutnya partai mengunakan pengaruh anggota parlemn dalam menunjuk pejabat birokrasi dan anggaran sehingga dapat mengambil alih kekuasaan demi melancarkan rencana jahatnya

Partai yang punya pengaruh legislasi dan dapat menciptakan produk baru memikat pihak swasta mau membiayai produk tersebut. Artinya, semakin besar kemampuan partai untuk menciptakan produk baru adalah ketika mereka dapat mengontrol legislasi. Dengan semakin banyaknya dana yang ditarik partai dari produk legislasi, maka menguntungkan kader partai secara keseluruhan, hasilnya kondisi koruptif itu semakin menjalar dan menyeluruh.

Hal itu tampak dari kasus KTP-E, dimana kader partai berkuasa saat itu, Partai Demokrat, menjadi yang paling banyak disebut menikmati aliran dana, disusul oleh Partai Golkar selaku peraih suara kedua mayoritas di DPR dan PDI-Perjuangan yang menjadi pemenang ketiga pemilu meski memilih sebagai oposisi. Inisiatif perbuatan korupsi juga dilakukan oleh para petinggi tiga partai tersebut, dengan menjadikan kader sebagai perantara penerima uang dari pihak swasta.

Sedangkan pihak ekesekutif mengikuti pola dan permintaan pihak legislatif karena membutuhkan anggaran dalam membiayai proyek.
Bagaimana mengatasi korupsi yang semakin menjalar tersebut? Menurut Yadav, memperkuat partai malah cenderung menyuburkan prakktik korupsi karena korupsi bersifat “top-down” dari para pemimpin partai.

Gerakan antikorupsi pun akhirnya harus bergerak di level institusi, bukan hanya “menciduk” individu-individu anggota parpol. Lembaga pemberantasan korupsi harus memiliki otoritas dan keahlian teknis untuk melakukan audit terhadap rekening individu kader partai dan melucuti mereka yang melanggar aturan. Harus ada penerapan sistem elektronik pembukuan partai, melatih pejabat partai mengenai sistem keuangan dan mendorong diseminasi laporan kinerja kader partai ke publik dan organisasi non-pemerintah.

Tujuannya adalah agar konstituen menilai partai dari prestasi dan kinerja kadernya, bukan seberapa besar dana yang dapat dikumpulkan kader untuk partai.
Transformasi parpol agar lebih transparan dan berbasis kinerja juga selanjutnya akan menarik kaum profesional yang selama ini merasa teralienasi dari politik karena kepemimpinan yang korup untuk bergabung dalam partai. Sejumlah lembaga donor seperti OAS, UNDP dan USAID juga menyediakan dana untuk pembangunan sistem partai yang transparan. Program ini sudah dilakukan di Amerika Latin, Thailand dan Kamboja.

Kuncinya memang pada kemauan untuk membuka diri secara terbuka, seperti satu kalimat bijak Corruption is authority plus monopoly minus transparency – Unknown. (T.D017)

Selamat ulang tahun pada tahun ini!

Gw lupa apakah gw pernah menuliskan kalimat ini sebelumnya: waktu masih kecil, gw pikir umur manusia terhenti pada usia 25 tahun, dan manusia tidak akan beranjak tua. Namun pemikiran ini tentu salah sama sekali. Usia 25 tahun sudah gw lalui beberapa tahun yang lalu dan usia sekarang adalah usia yang sama sekali jauh dari bayang-bayang.

Tahun ini dilalui dengan banyak hal yang patut disyukuri mulai dari pengalaman penjelajahan berbagai hal dan tempat hingga perkenalan dengan super banyak orang-orang baru maupun orang lama yang kemudian baru kenal dekat. Relasi antarmanusia mungkin jadi misteri yanng paling misteri dalam hidup sehari-hari, dinamikanya tidak bisa ketebak, and sometimes it’s sucks.

Persoalannya adalah gw adalah salah satu orang yang tipe “pengontrol” atau “perencana”, bakal gusar luar biasa saat rencana awal berantakan. Sayangnya gw selalu lupa ini: I never can control my own life since there are so much magnificent thing I can not control at all. Padahal Tuhan sudah kasih peringatan pada 2013 lalu untuk mengosongkan isi perahu agar gw hanya bergantung kepada Dia, tapi seiring berjalannya waktu, gw malah mengisi perahu gw dengan hal-hal “baik” menurut gw sampe-sampe perahu itu menuju tenggelam karena kelebihan muatan. Jadi sekali lagi gw harus mengosongkan perahu gw untuk memberikan ruang bagi Tuhan memimpin, bahkan untuk hal-hal yang gw rasa “super sangat baik”.

Pengalaman usia super di perbatasan yang gampang galaw membuat pun mengambil sejumlah kesimpulan:
1. Life by grace day by day, because you have no control to your own life, even in this very short life. Grace also means on God and persistence in prayer.
2. Life truthfully. Truth hurts. It bruises our ego, make us uncomfortable and calls for change, but it’s the only way to be found faithful.
3. Manage your promise, you don’t know how high expectation from other people when get your words, so do not make any fake expectation. You don’t know how much you or other people have to sacrifice to fulfill that expectation.

Jadi selamat bertambah dewasa pada usia yang baru Desca Lidya Natalia Situmorang.

Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir (Pkbh 3:11).

ayam gulai setengah ekor, dimakan jam setengah enam pagi
ayam gulai setengah ekor, dimakan jam setengah enam pagi
ternyata birthday cake sushi-tei kecillll
ternyata birthday cake sushi-tei kecillll
unntuk pertama kalinya bawa orang rumah ke Sushi-Tei
unntuk pertama kalinya bawa orang rumah ke Sushi-Tei

Regarding Impromptu Moments

When you just walking around, you are not “just” walking because whether you realize it or not, you have such particular purpose while walking. The aim could be “just” strolling around, searching new point of view, exercising, recalling something or even hoping for an impromptu moment.

Impromptu is something alluring yet unpredictable, and that’s the fun part. You are hoping an impromptu occasion but have no idea what will be happen; and if it happened, you still do not have any idea what is going to be go on.

It’s not because I always like the impromptu moment. On contrary I enjoy when I think whether it is an impromptu occasion or not. I’m the planner one. I enjoy while achieving my goals by the mechanism. I have a specific expectation before. I do revel in to evaluate what adjustment I need to imply in future to enhance my achievement.

But later on, I learn something just happened as it is. You can plan as rigid and tidy as you can but in subconsciously you also “arrange” an impromptu moment. And voila you consumed in it.

I give some examples, you turn to wrong intersection, you keep your walk straight so that you just rotate the same route, you stumbling and losing your concentration (or vice versa), the wind blow up your hair and ruin your appearance, or even you meet someone who you never expected before. The new pals can be your counterpart, your future lover or even your foe. But again all of it is out of your expectation. You just have to admit that it is impromptu moment.

However, here’s the good news, while you are facing the impromptu moment you are not alone. Everybody also face the same situation and trying to snap it hardly! You are not alone in your conscious mind because there’s your unconsciousness that crawling into your mind, heart and soul to make your selfish conscious surrender only by one deep breath. And another crucial part is this impromptu moment will go through, because time is the real villain. The time will shape up your fragile mind so that you might conform with the impromptu effect or even prepare for the next impromptu steps. Thank God!

Nov, 6, 2016

Japan Trip – Day 8 – extended – 30, Oct, 2016

Nyampe Taoyuan Airport sekitar pukul 05.30! Hal pertama yang kami lakukan adalah nukerin duit, karena tentu di sini harus makan dong! Mereka ternyata terimanya uang rupiah dan bukan yen, TOP! Nuker Rp100 ribu ajah buat beli minum karena udah aus amat berhubung di Vanilla gak dapet air.

Bandaranya super rumae, dan yang bikin rame ternyata banyak amat kakak-kakak TKI dan TKW, kewl! Bahkan pas nanya-nanya ke counter pesawat kami sempat didatengin bandar TKW (kayaknya) ditanyain kok sendirian ngurus pesawatnya, tampang kami emang, huft! Pesawat kami baru berangkat 09.05. Tentu kali ini kami check in dulu sebelum ngapa-ngapain.

Ngapa-ngapain itu maksudnya gosok gigi, cuci muka, makan! Dan uang Rp100 ribu itu kalo dikonversi yah setidaknya dapet 208 taiwan dollar dan bisa untuk makan, minum ples beli pin 1 untuk membuktikan kami pernah ke Taiwan. Tapi tau mampir di Taiwan, mending sekalian beli hape yah (padahal ongkos pesawat masih ngutang).

Di pesawat China Airlines, tampak jelas banyak mas-mas dan kakak-kakak TKI-TKW yang berniat kembali ke berbagai daerah di tanah air tentu dengan kehebohannya masing-masing. Tapi yah terima ajah, berhubung ini pesawat yang lebih mahal dari si Vanilla (jatohnya sekitar 4 jutaan), jadi kami dapet makan. Dan entah kenapa gw milih fish rice, padahal kayaknya lebih enak bentukan chicken rise, karena si fish kurang garem gitu deh. Tapi nasi udah kemakan. gak bisa dituker lagi. Lagi pula gw ada bekal 3 onigiri yang dibeli di lawson, jadi lumayan juga untuk ganjel.

tiket yang angus dan tiket yang baru
tiket yang angus dan tiket yang baru
salah satu lorong Taoyuan Airport
salah satu lorong Taoyuan Airport

Gak sempet foto-foto suasana lagi karena udah sad ketinggalan pesawat dan mikirin bayar tiket tambahan *edisi klimaks dari drama perjalanan.

Penerbangan butuh waktu sekitar 4,5 jam, jadi kami nyampe sekitar 13.30 WIB, yipppi!! Setelah ngurus-ngurus bagasi dan sebagainya yang hampir sejam, gw, ayu dan ucan pun berpisah sambil berjanji akan cari rezeki banyak-banyak bulan ini demi melunasi tiket si vanilla dan china airways. Bisa jadi cara mendapat rezeki pertama adalah dengan ngejar gereja jam 6 sore ini! Hail yeah!